Kamis, 14 Desember 2023

#Nulis 02: Keindahan Makam Sunan Muria, Ada Bakul Kopi Muria yang Tersembunyi


Eksistensi wisata religi makam Sunan Muria sepertinya sudah tak perlu dijelaskan lagi. Setiap hari ada saja peziarah yang datang mengunjunginya, dari yang dekat seperti saya, atau yang rombongan dengan bus pariwisata. Biasanya mereka adalah rombongan peziarah dari luar kota. Dari yang fasih bahasa Jawa, yang ngapak, dan yang bule pun pernah mampir di makam yang perlu tenaga ke sana.

Tapi sepertinya, bagi yang belum tahu bisa saya jelaskan lebih banyak soal Wisata Religi Makam Sunan Muria dan hal-hal indah yang tersembunyi di dalamnya.

Lokasi makam Sunan Muria

Sunan Muria bernama asli Raden Umar Said, dan beliau dimakamkan di Gunung Muria. Sunan Muria juga menjadi salah satu dari kesembilan Walisongo yang menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa.

Dari beberapa makam para sunan, yang paling saya sukai adalah Makam Sunan Muria, sebab lokasinya berada di Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kalau ke sini, bakal disuguhkan pemandangan luar biasa Kudus dari mata Gunung Muria. Belum lagi kalau malam, berasa melihat taburan bintang tapi di bawah.

Saya kerap datang ke sana, nggak sering-sering juga, mentok hanya 3-4 kali selama setahun. Meski saya berdomisili di Kudus, jaraknya cukup jauh dari pusat kota, membikin saya tidak bisa mengunjungi terus-menerus. Belum lagi untuk naik ke atas, iya ke makamnya.

Akses menuju makam Sunan Muria

Kalau mau ke sana, paling tidak sudah harus siap duit 40 ribu untuk berangkat-pulang naik ojek menuju ke makamnya. Kenapa?

Akses kendaraan beroda empat hanya bisa sampai parkiran. Sebenarnya bisa naik motor sendiri ke atas, tapi saya sarankan jangan gegabah. Jalannya sempit dan berliku-liku, belum lagi bersimpangan dengan para ojek yang seperti peraga tong setan. Mending, saya lebih sayang nyawa saja. Duit 40 ribu bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa ditukar tambah.

Sebenarnya ada jalur untuk pejalan kaki, ribuan tangga yang diapit pasar. Tapi memang, anda harus siap banyak tenaga. Karena untuk sampai ke makam, harus nanjak lagi dan itu bikin napas ngos-ngosan dan dengkul linu. Pokoknya, yang tenaganya tidak fit, jangan coba-coba sebelum anda merasakan simulasi sakaratul maut.

Perjumpaan dengan bakul kopi

Berawal dari kebodohan saya Agustus lalu, yang coba-coba jalan kaki menuju makam Sunan Muria. Biasanya saya ngojek, tapi saat itu pengin merasakan sensasi jalan kaki. Padahal lupa jati diri bahwa saya remaja jompo yang asing berutinitas olahraga.

Baru setengah jalan, napas saya sudah seperti kambing disembelih. Muka merah dan badan gemetar. Situasi ini  membikin saya pengin muntah. Sebab, dalam badan saya panas, dan tubuh saya diguyur banjir keringat. Minum air putih tidak mempan, yang ada saya menangis karena menyesali memilih jalan kaki.

Lalu saya memutuskan untuk berhenti, mampir di salah satu warung sederhana di tengah-tengah Pasar Makam Muria yang sedikit lengang, maklum hari Selasa. Saya memesan Lee Minerale dingin untuk menetralkan tubuh dan Pop Mie untuk mengusir gemetar. Situasi pasar sepi, jadi saya bisa leluasa menikmati pesanan dengan ngobrol bersama Mbah Yatmi, pemilik warung tanpa nama ini.

Lokasinya berada di tengah jalur Pasar dan dekat dengan pemberhentian ojek. Model warungnya seperti warteg yang menyajikan gorengan dan makanan berat. Dekat dengan tikungan yang langsung menghadapkan dengan pemandangan gunung Muria.

Di antara obrolan kami, yang menarik adalah soal kopi Muria. Kopi hasil tanah Muria yang sebenarnya belum pernah saya coba. Sepertinya enak, itu yang saya baca dari banyaknya bapak-bapak ojek yang memesan kopinya.

Nikmatnya kopi muria bikinan sendiri

Segelas kopi tiba di depan muka saya. Asapnya mengepul, menghangatkan wajah saya yang mendingin karena keringat. Aromanya harum, bikin saya ingin langsung menyeruputnya segera. Itu adalah perasaan yang saya rasakan ketika kopi itu disuguhkan oleh Mbah Yatmi kepada saya.

Katanya, “Dicoba dulu Mbak, dijamin nggak bikin kembung.” Saya sedikit yakin, sebab Mbah Yatmi bercerita biasa mengonsumsinya sehari 1-2 gelas. Tapi, saya kan, bukan pecinta kopi banget. Bahkan, sehari sebelumnya badan saya gemetar menjajal kopi susu di kafe.

Tapi setelah saya sesap, rasanya jiwa saya langsung dibawa naik di atas gunung Muria, ketemu burung-burung dan angin sore. Enak pol. Rasanya pas, manis dan tidak pekat untuk saya yang tidak kuat pahit. Tapi juga tidak terlalu legi untuk yang suka kopi. Yang bikin saya langsung jatuh cinta pun, karena tidak bikin kembung. Badan saya menghangat dan perasaan saya juga ikutan. Seperti ada resep rahasia yang ditabur dalam pembuatannya.

Hanya disangrai dengan jagung, Mbak.” Papar Mbah Yatmi yang mudah saja menjelaskan resepnya.

Benar. Resep rahasianya adalah jagung dan cinta. Mbah Yatmi yang penuh asih ini telah menyajikan kopi nikmat. Dan yang bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi yakni Mbah Yatmi memberikan kopi ini gratis, bayarannya adalah mengobrol banyak hal di sana.

Meski dikasih gratis, saya membayar lagi untuk datang ke sana kembali dan membeli kopi itu lagi, tapi kali ini, bonusnya saya diajak makan bareng keluarganya. Sungguh, nikmat yang perlu saya syukuri.

#Nulis 01: Mahasiswa Semester 7 Rajin Skripsian itu Kasih Semangat, Jangan Dikomen ‘Nanti Juga Males Lagi’


Pembahasan soal skripsi nggak akan pernah rampung selagi perguruan tinggi di Indonesia masih terus beroperasi. Saat ini skripsi masih menjadi syarat kelulusan bagi sebagian besar perguruan tinggi, meski di beberapa kampus lain sudah mulai mengadaptasi tugas akhir berupa proyek. Namun, eksistensi skripsi masih terus gemilang, walaupun namanya kerap jadi momok untuk mahasiswa, bagi yang belum menjajalnya pun pada yang sudah dibuat nangis-nangis menjalaninya.

Skripsi biasa dimulai ketika masa semester 6 berakhir, peralihan menuju semester 7.  Edarannya pun biasanya depan belakang dengan pembagian kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Waktu di mana mereka selalu antusias dengan identitas baru yang mereka miliki, ‘semester tua’  katanya. Hampir mirip dengan semangatnya mahasiswa baru, bedanya yang ini sudah merasakan asam garam perkuliahan.

Biasanya semangat dalam menyambut identitas mereka dibarengi dengan semangatnya menjanjal skripsi. Mulai rajin mengunjungi perpustakaan, bertanya soal tips-tips cari referensi yang valid pun bagaimana caranya bisa memenangkan hati dosen pembimbing skripsi. Pokoknya, mahasiswa semester 7 itu, merasa sudah menapak kehidupan dewasa di perkuliahan.

Sayangnya, semangat-semangat itu kadang dipadamkan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang menganggap mereka berlebihan. Biasanya berasal dari kakak tingkat mereka yang sudah semester dua digit. Katanya, “Nggak usah terlalu semangat, nanti pas di tengah skripsian biasanya kamu bakal males, belum lagi dosen kamu siapa? Yakin bisa kelar?”

Ungkapan tersebut kerap kali langsung bikin nyali mahasiswa semester 7 ciut, sekaligus beringsut malas mundur perlahan. Padahal, apa salahnya semangat?

Daripada membuat mereka takut, lebih baik dampingi mereka dan kasih semangat biar skripsi mereka lancar. Minimal, jangan bikin penerus kalian semakin banyak.

Biarkan mereka mengunjungi perpustakaan tanpa sungkan

Langkah awal dalam proses skripsi adalah dengan membaca-baca referensi. Mahasiswa biasanya langsung mengunjungi perpustakaan untuk langkah mudah memberi makan kebutuhan literasi mereka. Tapi, niat tersebut tidak lepas dari cibiran orang-orang.

“Halah paling juga habis itu nggak datang lagi.”

“Itu cuma pencitraan, palingan juga nggak ngapa-ngapain.”

Meski beberapa dari mereka ada yang baru saja menapaki perpustakaan kala ini, jangan dikatain ikut-ikutan. Bersyukur kalau mereka sudah ada semangat untuk mengunjungi perpustakaan. Bahkan, kalau mereka memposting kunjungan ke media sosial jangan dicibir. Biar mereka semangat, toh kalau kesusahan mereka juga bakal ngerasain, kok.

Melihat perpustakaan kampus ramai diisi mahasiswa semester 7 ketika awal semester itu nggak buruk. Mereka datang untuk melihat-lihat referensi skripsi, kok. Kalaupun cuma datang dan lihat-lihat, siapa tahu mereka akan terilhami dan betah untuk datang kembali. Mereka kan juga datang dengan tertib, bukan untuk bikin berisik dan memperlihatkan identitas mereka sebagai anggota baru mahasiswa semester tua.

Jangan nakut-nakutin soal karakter dosen yang susah

Kejadian ini saya rasakan sendiri di awal semester 7. Kala itu saya senang lantaran dapat dosen yang saya idamkan. Eksistensi beliau memang kerap jadi alasan mengapa saya pengin dibimbing beliau. Namun, ketika saya curhat kepada kakak tingkat yang satu bimbingan dengan beliau, saya dibuat ciut dan mikir dua kali.

“Kamu jangan senang dulu, kalau kamu sama Bapak itu. Kelihatannya aja baik, aslinya enggak. Nggak percaya? Aku nih, buktinya.” kakak tingkat itu menceritakan pengalamannya.

“Aku udah bikin sampe proposal tapi ditolak disuruh ganti judul,” imbuhnya lagi yang membuat saya langsung takut. Satu bulan saya bertanya-tanya, apa benar kalau dosen pembimbing idaman saya punya karakter sejahat itu?

Tapi setelah saya bimbingan berkali-kali dan mengobrol lebih masif, apa yang disampaikan kakak tingkat tidak seratus persen benar. Dosen pembimbing saya cenderung perhatian dan memahami siklus naik turun mahasiswanya. Mungkin memang, bagi beberapa mahasiswa yang lebih suka santai menganggap dosen tersebut tampak memburu-burui tanpa memperhatikan kondisi mahasiswanya. Padahal, nggak juga.

Tidak ada dosen yang sempurna, pun juga mahasiswa. Saya menyadari bahwa terkadang dosen yang punya stigma ‘nggak enak’ itu enak-enak saja. Kecocokan mahasiswa dan dosen itu memang perlu adanya, jadi bukan berarti tidak cocok dengan anda, bukan berarti juga sama dengan orang lain.

Nggak ada yang salah dengan ngerjain skripsi cepat

Proses pengerjaan skripsi itu memang nggak bisa dikotakkan dengan standar satu waktu. Bebas. Asalkan terdapat alasan yang masuk akal mengapa skripsi memang harus rampung di waktu tersebut.

Orang yang lulus lama pun, juga bukan berarti ngerjainnya malas. Bisa saja, dia sedang membahas mega permasalahan yang perlu diselesaikan dengan jutaan partisipan. Juga kepada yang mengerjakan hanya beberapa bulan, bukan berarti skripsinya ambil data sekenanya. Nggak mungkin dong, mereka langsung nempel-nempel data dari Wikipedia atau media lainnya. Terselesaikannya skripsi itu butuh dua dukungan, eksternal dan internal.

Jadi kalau ada mahasiswa semester 7 sedang rajin mengerjakan skripsi, bisa saja memang sudah punya target dan ada mimpi yang perlu diraih. Jadi, jangan dianggap sok ambis bahkan dikata nggak sopan mendahului senior-seniornya.

Tanpa dikasih tahu, pun, kita semua tahu skripsi itu capek jadi dukung dan semangati itu perlu

Banyak sekali pembahasan kalau fase terberat kuliah itu berada di skripsi. Dinamikanya selalu bikin kita terkuras secara emosi, fisik, dan finansial. Pesan jangan terlalu antusias dengan skripsi kerap kali disampaikan kepada kakak tingkat yang sudah dibuat babak belur dengan skripsi, atau dengan kakak tingkat yang takut mencoba skripsi tapi sudah takut duluan.

Kita semua tahu, sebagai orang yang pernah berkecimpung dengan proses skripsi, niat kita baik untuk memberi tahu agar tidak kaget ketika sedang ada di situasi capek skripsi. Namun sayangnya, pemberitahuan itu kerap disampaikan tanpa solusi dan dengan cara yang salah.

Membuat proses burn out skripsi jadi makin buruk dan buntu. Karena hal tersebut biasanya banyak mahasiswa akhir yang enggan melanjutkan dan menemui dosen pembimbing lantaran sudah kedarung capek tanpa dukungan.

Kita ketahui, dukungan dalam hal sulit itu sangat berdampak bagi kebangkitan seseorang. Jangan sampai, apa yang kamu katakan membuat orang bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Hih, ngeri kan jadinya.

Selasa, 17 Oktober 2023

#Soalku Satu; Tangisan Tanpa Alasan



Sebagai manusia yang sudah hidup cukup lama dengan badan yang sama sepanjang masa, bukan jaminan aku mengenalnya sempurna. Ada beberapa komponen yang masih begitu asing, sesuka hati dan seenaknya sendiri. Susah kukendali, bahkan susah kuajak berkorespondensi. Bagiku, komponen itu selalu mau menuruti maunya, dan kesalnya bertamunya selalu tanpa janji dulu. Perasaan itu kuberi nama, tangisan tanpa alasan. Ya, dia hanya meminta aku untuk menangis, yang sebelumnya harus diorientasikan dengan marah dan kesal, kalau perlu menyembur semua orang yang ada di sekitarku.

Bagiku, prosesi upacara 'Tangisan tanpa alasan' ini seperti tidak punya adat. Tak diajari etika dan seperti hidup di zaman purba. Pelajaran kode etik dan sopan santun yang kupelajari sejak taman kanak-kanak ini selalu tak manjur baginya. Seperti kataku di awal, dia seenaknya. Merebut kendali tubuhku untuk jadi seseorang yang ingin dimengerti oleh semesta. Kataku; pokoknya ketika aku sedang ditamu oleh tangisan tanpa alasan ini, aku berubah jadi monster tak beretika. Semuanya harus bisa maklum, semuanya harus paham maksud yang ingin digaung.

Biasanya, itu kurasakan ketika sebelum bertemu mentruasi. Perasaan bernama hormon itu, seakan jadi mitra baik tangisan tanpa alasan itu. Mereka berperan hebat, melakonkan hati dan pikiranku untuk membenci hal-hal sepele. Bahkan, hanya sekedar kipas yang menyemburkan banyak angin, membuatku kesal. Sampah yang tak mau masuk kotak sampah pun, jadi kena semprotku.

Upacara itu, sudah mulai kuadaptasi. Tapi tak sepenuhnya bisa kuatasi, karena kembali lagi, mereka adalah perasaan tak beradat. Mereka tak mengenal urusan rumit yang bikin kepala penuh. Mereka tak peduli apa-apa yang lebih serius di dunia. Mereka hanya datang, meminta waktu untuk menggelontorkan tangis hebat. Mungkin, satu jam, atau paling sebentar tiga puluh menit.

Tangisan tanpa alasan ini juga aneh, tapi mandiri. Mereka tak memerlukan lagu sedih, mereka tak butuh film yang tragis. Mereka hanya butuh menangis saja, tanpa alasan. Makanya, kuberi nama mereka Tangisan Tanpa Alasan. Mereka bahkan bisa datang saat aku baru saja bercanda dengan saudara, sahabat atau menyapa orang di jalan. Mereka bahkan bisa membuatku yang awalnya menikmati makanan, mendadak dibuat lauk tambahan dengan nama air mata.

Tangisan tanpa alasan itu memang kerap menyapa. Dan aku sudah mulai tahu siklusnya, dia akan menumpahkan gelondongan berat di dadaku. Kemudian, setelah rampung dengan ritualnya membanjiri pipi, mereka akan membuat tenggorokanku kering, perutku lapar. Kemudian, aku makan saja, aku minum saja. Oiya, mereka juga selalu membuat tisu kamarku cepat habis. Hidungku juga mampat dengan berat, belum lagi suka bikin kepalaku pusing.

Tapi tak apa, tangisan tanpa alasan itu kerap meredakan dadaku. Membuatku lebih bisa menikmati hal sederhana dalam diriku. Mengundang kantuk lebih cepat dan yang pasti, keesokan harinya aku lebih bahagia, perasaanku juga lebih reda. Tapi, tak kadang juga, bonus tinta merah memang kerap juga menyapa.

'Hi,' katanya. 'Aku siap membuatmu menderita dengan keram di perut cukup lama, maka jangan banyak menangis lagi.'

Jumat, 07 Juli 2023

Perspektif 5: Mantra untuk Gadis Tak Cantik




Aku memilih aku sendiri karena aku menyayangi aku.”

Sebenarnya dalam hidup ini, sadar tidak sadar manusia telah memilih sejak kecil. Mungkin akan terkesan seperti pilihan jelas soal baju apa yang akan kita pakai, sekolah mana yang akan kita tuju, makanan apa yang kita izinkan masuk perut dan pilihan yang tampak domestik saja. Tapi ada beberapa pilihan yang tanpa kita sadar, kita memilihnya; cara kita memandang dunia. 

Rasa bahagia, takut, senang, biasa saja itu adalah pilihan bawah sadar yang sebenarnya kita memilihnya, namun menganggap itu naluriah. Mari kita pikirkan, pada situasi yang berbeda namun hal yang sama itu akan jadi berbeda, karena kita memilih untuk merespon tersebut. Sama halnya dengan pengalaman dan memori yang telah kita lalui serta terima. Ketahuilah, momen yang mengesankan dan menakutkan, itu memang pilihan otak kita.

Dan aku memilih untuk mengingat kepingan kecil bernama rasa rendah diri di usia 12 tahunku dulu. Baiklah, mari merambah menuju ke depan, yang pastinya lebih baik dan lebih berarti. Hasil dari bagaimana aku memilih.

Hai, aku kembali dengan lebih segar. Dibandingkan dengan catatan kemarin soal rasa pesimistis yang ditunjukkan dari masa lalu—gadis usia 12 tahun yang takut tak punya masa depan. Sejujurnya, kini aku hidup lebih sejahtera. Jadi bagian manusia yang biasa-biasa saja dan mencintai dirinya apa adanya. Meski terkadang tidak sepenuhnya, tapi percayalah aku lebih senang menikmati hari-hariku bersama orang hangat dari pada terlibat dengan perasaan yang membuatku melarat.

Mungkin perjalanan tidak mudah, soal menerima diri, mencoba mengetahui maunya, memulai hal-hal baru dan mengisinya dengan yang lebih baik. Aku memerlukan waktu sejak usiaku 14 tahun, hingga kini aku berada di usia kembang-kembangnya. Dua tahun setelah aku terhubus oleh kata guru di sekolah dasarku. Semoga beliau, selalu diberi sehat dan baik menuju usianya yang merambah senja.

Aku memang tidak dilahirkan dengan sikap pendiam dan penuh santun. Gerakku tak terbatas, mulutku berceloteh tanpa tandas. Rasanya, aku selalu menginginkan seseorang dengan hangat menerimaku, membersamaiku dan melakukan hal-hal paling asyik di dunia ini denganku. Egois? Wajar saja, itu muncul di batok kepala gadis yang baru 13 tahun hidup. Percayalah, di seluruh dunia ini, orang-orang akan mengevaluasi dirinya habis-habisan untuk dapat diterima.

Belajar dari tidak diterima sebagai orang tidak cantik, aku mulai mencari cara diinginkan khalayak, paling tidak aku diperhitungkan kala diajak jajan ke kantin atau sekedar mampir beli pop ice kala selepas sekolah. Kalian tahu kan, pertemanan sekolah menengah memang selektif sekali!?

Jika tidak bisa menjadi cantik, aku ingin jadi yang menyenangkan. Dari pada hanya sekedar menyukai buku dan berimpulsif jadi penulis, aku harus bergaul. Kala itu, sedang ramai stand up comedy. Aku menjajalnya, dengan guyonan seadaku yang amatir, aku mencoba unjuk diri di perlombaan akhir semester, dan aku juara 3. Luar biasa. Ketahuilah seluruh masyarakat sekolah langsung mengenalku semua. Tiga angkatan siswa dan guru-guru—yang mengajarku juga yang tidak. Aku diterima dengan baik! Kata mereka, aku cerdas. Bagaimana rasanya? Tentu membanggakan.

Di antara perjalanan aku mencari diriku sendiri. Aku juga menemukannya dari orang lain. Seorang laki-laki berusia setengah abad, tidak tinggi dan terkenal kerèng (read: galak). Perkenalkanlah beliau bernama Bapak Rochamadi, seorang guru Matematika—ketahuilah, aku sedikit kesal juga dengan mata pelajaran itu, tak pernah sempurna nilainya—menyampaikan kalimat absurd yang tak masuk akal bagiku. Kalimat yang aku rasa hanya sekedar nasehat guru lalu, seperti kenangan di usia 12 tahun itu. Di siang bolong, kala jam bel sepulang sekolah ingin menunjukkan dentangnya.

Ndhuk, pernahkah kau melihat dirimu? Kamu punya sesuatu yang hebat dalam dirimu. Dan, sesuatu itu akan membawa kamu ke perjalanan yang hebat juga,” ucap beliau seperti seorang peramal.

Aku yang sedang guyon dengan teman sebangku, langsung menautkan alis namun tak mengurangi rasa sopan, “Mboten ah, Pak, Saya bukan ranking satu di kelas.”

“Ya, memang. Tapi bukan berarti ndak akan terjadi, kan?” Bapak itu menyenderkan badannya di mejaku. Jarak kami menjadi dekat—itu biasa dilakukan para guru kala ingin mengobrol dengan muridnya.

Beliau terkekeh, “Kalau saya lihat di antara teman-temanmu. Kamu yang paling unggul di sini. Kamu cerdas dan bisa meraih apa yang kamu inginkan.”

Aku yang kala itu selalu berorientasi ingin langsing, langsung mengaminkan. Siapa tahu kala aku jadi remaja seutuhnya, aku jadi pusat perhatian kan? Jadi banyak yang bakal mau temenan dan suka denganku? (Sungguh, aku sebenarnya malu mengakui ini pernah terbesit di kepalaku. Tapi itu wajar terjadi, aku hidup di antara para gadis yang sudah mengagungkan romansa, jadi primadona dan pusat semesta)

Sinau o sing tenanan ndhuk, usaha o sing teteg. Perkenalkanlah dirimu sebagai orang baik, orang yang pintar dan cerdas. Karena itu lebih baik jika hanya terkenal sekedar cantik saja. Tunggu beberapa tahun kemudian, nanti kamu bakal paham.”

Merinding. Segala bayangan klise masa depan langsung membuatku tak hentinya berdebar. Bagaimana rasanya aku di remaja nanti? Di masa SMA nanti? Bagaimana aku kala kuliah—ah, aku belum memutuskan untuk itu. 

Rasanya, ada suntikan besar yang membuat darahku berdesir dengan cepat. Ada pompa udara besar yang membuat ototku mengencang. Tapi aku tak tahu makna hebat yang dimantrakan Bapak itu. Masih terlalu abstrak untuk dipetakan. Tapi kini, ingin menangis kala mengingat itu.

Mantra. Itu mantra hebat yang diujarkan seorang guru. Doa-doa baik yang sekarang membawa aku jadi lebih baik. Kala itu, aku jadi rajin belajar. Aku yang tidak diperhitungkan mencoba membelokkan haluanku jadi pusat perhatian menjadi penikmat segala perjalanan. Aku mulai menuruti apa kebutuhanku. Akademikku  sepertinya juga perlu diupayakan. Berbekal dengan mantra dan tips belajar ala Alif Fikri di Negeri 5 Menara ‘man jadda wa jadda’, aku langsung melesat menuju peringkat tiga. 

Ya, PERINGKAT 3. Bagiku, yang dulu merasa jadi tiga besar adalah dongeng kini nyata adanya. Namaku diperhitungkan, dan bahkan aku mengalahkan si nomor satu. (Kala itu sedang ada perubahan besar, orang-orang yang rendah mendadak jadi yang terbesar).

Langsung saja sebelum euforia itu mereda, kutemui guru itu di akhir jam les. Usai mengejar kelas sebelah, kucegat beliau di depan kelas. Entah kenapa sejak mantra itu, aku mendadak jadi merasa akrab. Padahal beliau bukankah terkenal garang?

“Pak, saya dapat rangking 3.”

Beliau tersenyum, menepuk pundakku, “Lanjutno, tak tunggu rangking satumu.”

Waktu berjalan begitu apik. Kala aku memilih aku sendiri untuk bisa mencoba hal lain yang lebih baik. Aku mulai mengerti mengapa kecantikan itu sulit kugapai. Karna mereka fana, karena mereka hanyalah kemustahilan yang diada-adakan. Jadi, lalu apa yang perlu kukejar sekarang? Diri sendiri. Aku perlu mengejar diriku sendiri yang mulanya asing.

Merangkak menuju dewasa, aku tetap jadi orang yang menghibur dan menyenangkan, aku masih suka melucu meski sudah tidak pernah naik panggung sebagai komedian, aku tetap jadi orang yang senang bergaul dan berceloteh yang kadang juga membual. Aku tetap menyukai buku-bukuku, dan tak menutup pintu dengan pengalaman baru. Kuikuti ekstrakurikuler yang kusukai dengan sepenuh hati, dinikmati waktu ke waktu bersama orang-orang Baikku. Masa remajaku, cukup menyenangkan bersama mereka.

Aku tak cantik kala itu—sekarang pun tidak, tapi temanku membludak banyak. Kenalan di mana-mana, punya teman kemana-mana dan tak sedikit mereka mau berbagi rahasia denganku. Mereka bersedia mendiskusikannya dengan kepalaku yang masih labil itu. Tapi aku senang, dengan itu aku juga belajar banyak soal diriku sendiri.

Beranjak menuju bangku kuliah, seperempat dari abad. Aku sudah berkembang dengan baik. Sangat baik. Aku sudah tahu kemana aku berjalan, aku sudah paham apa yang ada di dalam diriku. Aku sudah tahu makna cantik untukku. Aku punya identitas juga; klepon, ehehe. Bercanda.

Aku mulai tidak tertarik disukai karena cantik. Karena beberapa kenalanku, hidupnya sedikit repot karena diburu—privasinya seperti diusik. Juga beberapa kesempatan lain, teman-temanku juga mengakui kekurangannya. Ada beberapa dalam diri mereka yang tak disukai, mereka juga punya rasa kurang atas diri mereka. Kupikir, dulu aku sendirian.

Jika aku tidak bisa menjadi cantik maka aku bisa jadi bersinar.. Meski tidak sempurna, aku bisa menyempurnakannya. Aku memang tidak punya beberapa hal yang tak dipunyai orang lain. Namun bukankah mereka juga tidak punya apa yang kupunya, kan? Seimbang, rata sesuai ketentuan SK Pencipta.

Penerimaan diri dan memilih memang terkesan sederhana. Tapi serius, ini cukup sulit jika tidak punya bekal yang baik. Lingkungan, support orang lain itu juga perlu. Maka jangan dijauhi ya, seseorang yang kurang itu. Namun kembali lagi, hati kita yang memilihnya. Bukankah kita nahkoda dari kapal besar bernama ‘diri sendiri’?

Jika saja, Bapak Rochamadi itu masih hidup, aku ingin sekali mencegat beliau di pintu kelas lagi. Ingin kupamerkan bagaimana aku beranjak dewasa. Ingin kujelaskan bahwa ucapannya tak ada yang melesat. Tepat dengan sempurna, dengan waktu yang tak pernah kuduga.

Akan kuceritakan bahwa aku telah meraih predikat terbaik bagi diriku sendiri dan orang lain—terbaik yang berlisensi. Aku ingin menyampaikan pada beliau bahwa aku adalah kehebatan yang tak pernah bisa kuintip sendiri. Dan beliau, adalah seorang cermin yang memberikan aku tahu soal aku, aku yang tak terlihat dan aku yang lebih hebat. Pasti responnya tak sekedar senyum tipis, pasti beliau lebih tersenyum lebar dan bungah. Sayangnya, hanya bisa kusampaikan lewat Al-Fatihah. Selamat bersenang-senang di surga, Pak.

Ternyata benar, hidup memang soal menemukan dan memilih. Banyak sekali gerbong pengalaman dan peristiwa yang lewat, tapi kita bisa memilih gerbong mana yang bisa kita gunakan untuk meluncur masa depan. Gerbong mana yang bisa membawa aku jadi seseorang yang merasa berguna dan memang berguna. Serta, gerbong mana atau pengalaman apa yang bisa kugunakan untuk meniti perjalananku.

Terima kasih, atas kesempatan hangat telah dilalui. Aku tidak akan memilih menjadi cantik, tapi aku akan memilih jadi hebat.


Terima kasih telah mampir membaca satu kepingan dari perempuan biasa saja. Terima kasih, semoga kalian juga selalu diberi sejahtera. Semoga juga telah dipertemukan dengan gerbongnya dan selalu punya mantra penguat. Sayangi diri kalian karena itu teman sejati yang tak pernah berpaling. Kalian hebat dengan versi kalian masing-masing.


Selasa, 04 Juli 2023

Perspektif 4: Kata Mereka, Aku Tak Cantik


“Pasti menyenangkan jadi tokoh utama dalam segala peristiwa, tapi itu terlalu melelahkan.”

_

Kali ini, perkenankanlah aku menguak sisi gelap dalam perjalanan hidupku. Sedikit dramatis, tapi aku rasa ini hanyalah ironi dengan ragam yang hampir sama dengan banyak manusia. Rasa kurang yang selalu mewujudkan ingin jadi orang lain, rasa sedih yang selalu menginginkan kesempurnaan. Aku sedikit malu, tapi biarlah ini sebagai wujud aku menerima diriku. Paling tidak sebagai cara aku telah memilih jalanku.

Aku tahu ada beberapa hal dalam dunia ini yang tidak bisa aku raih dalam hidup. Koridor yang gerbang saja sudah tidak terbuka untukku. Koridor itu bernama ‘kecantikan’. Kecantikan yang berjenis eksposur dan paket keuntungan yang mengekorinya.

Meski aku tahu betul, kecantikan yang memesona tidak pernah selalu jelas kategorinya. Bahkan tidak ada kitab khusus yang menjelaskan bahwa untuk bisa menarik seseorang harus punya kecantikan; rambut panjang, mata yang teduh, lesung pipit atau sekedar kulit putih dan tubuh langsing. Namun melihat mata mereka yang tak berbohong pada pesona itu, membuat aku merasa kecantikan yang nyata adalah kategori itu dan membuahkan pikir 'bisakah aku membiusnya dengan hal seperti itu?'

Aku tak pernah meminta memiliki takdir menyedihkan. Lebih tepatnya tidak ingin dianggap menyedihkan. Kita semua tahu dan aku tahu betul bahwa semua orang punya problem. Tapi, dongeng-dongeng peri memesona membuatku tak bisa berpikir jernih. Kerap membuat nyaliku ciut untuk sekedar mencicipi asmara. Karena aku pikir, siapa aku yang biasa-biasa saja ini? Pangeran mana yang akan menjatuhkan hati pada perempuan tak memikat ini?

Kulitku tak licin, tinggi badanku standar, warna kulitku pun juga tak seputih testimoni produk kecantikan, serta aku punya banyak sekali kelebihan yang tak diinginkan, ya, berat badan. Sesungguhnya itu adalah tembok raksasa yang menamainya sebagai kurang dan rasa takut.

Ah, rasanya aku begitu kesal menyebutkan itu begitu jelas. Karena, pengakuan itu akan selalu berbuntut pernyataan defensif kalian soal ‘aku yang tak bisa menjaga diri dan tak ahli merawatnya’. Padahal, aku juga tahu ini bukan hal baik, mulanya aku selalu melakukan demo. Unjuk rasa pada diriku sendiri yang bahkan tak punya tangan untuk meraih dirinya menuju kriteria sempurna mereka. Tubuh yang langsing, tubuh yang mendukung masa remajaku yang sedang kembang. Tubuh yang mengabulkan cinta pada pandangan pertama. Baik laki-laki, maupun perempuan.

Kalian boleh menganggapku seseorang yang tak punya rasa syukur. Tapi percayalah, ketika ingin mencintai takdir namun ada yang kontra akan membuatnya sulit beradaptasi. Aku punya ingatan yang kuat, meski sudah berlalu sepuluh tahun silam. Kata-kata yang seperti jarum pentul itu menusuk-nusuk dadaku. Aku mengingat betul seorang guru mengatakan ini padaku, perempuan dan berjilbab yang kini sudah tak kuketahui kabarnya.

Guru yang seharusnya menjadi garda menuju masa depan yang indah. Masa depan yang dapat dituai janjinya dari upaya yang keras, doa yang memelas dan beberapa pinta tak terbatas. Namun, perkataan itu, membuatku merasa, dunia tak punya kesempatan untukku. Terlebih pada gadis gendut yang sejak kecil sudah mendamba langsing.

Katanya, “Kurangilah berat badanmu itu, sudah berlebihan… Makanmu banyak sekali pasti, berapa kali sehari? Kau hobby makanan manis, jangan minum es dan pokoknya kau akan tahu bahwa badanmu itu petaka. Suatu saat kau akan tahu bahwa seseorang laki-laki akan memilih perempuan yang langsing dan cantik.”

Kala itu juga, di samping meja guru… gadis yang usianya baru menginjak 12 tahun itu, hanya bisa merespon getir. Tak punya penolakan namun juga bukan berarti tak sakit hati. Betapa gelapnya masa depanku, betapa tak menyeramkannya fakta itu. Meski memang, di usiaku yang kini sudah mengingatkan dua puluh tiga tahun ini, ucapan beliau ada benarnya.

Tapi, terlalu berlebihan soal aku hidup sebagai seseorang yang menyeramkan dan hidup dalam petaka. Waktu berjalan menuju ke sini, di aku yang sekarang. Melewati masa remaja yang membuatku mengerti banyak hal juga. Pada kekarepan anak usia 12 tahun lalu soal ingin jadi orang yang dianggap ada, ternyata tak perlu repot-repot menjadi cantik.

Meski pada kenyataannya, beberapa kesempatan juga menyembulkan rasa iri; soal asmara, soal berlagak dan jadi peraga serta seseorang yang dengan mudah menentukan busana untuknya. Bahkan sederhana, ketika berjalan dengan temanku yang cantik, kerap kali seseorang tak melihatku. Entahlah, aku kadang sedikit kesal pada mata laki-laki yang tak memanusiakan perempuan seperti aku.

Tapi, tak apa. Lagi pula, semesta begitu luas. Mata-mata nakal mereka yang melengos dariku, termasuk syukur yang perlu aku haturkan. Berapa banyak kasus pelecehan yang diberitakan? Berapa banyak pula, hati perempuan cantik itu dikasih trauma atasnya? Betapa mereka yang cantik, juga perlu selektif menerima cintanya yang digugu wajahnya saja? Dan aku, sudah terbiasa dengan pelecehan tidak cantik. Tapi paling tidak, hanya sekedar itu, kan? Serta paling tidak untuk asmara, aku tak perlu repot-repot selektif karena mereka telah mengeliminasi diri mereka di awal pertemuan.

Mungkin kata-kata tersebut sedikit terkesan seperti tertawa di atas penderitaan? Menjelaskan lebih baik dan untung padahal seharusnya seorang perempuan juga harus saling memberi lindung. Paling tidak jangan menyakitinya. Ya aku tahu, aku perempuan dan aku juga harus mengerti tak boleh ada saling gores antar sesama kami—meski dulu, aku juga sedikit sakit hati pada perkataan mereka yang menganggap aku sebagai perempuan reject. Menganggap, aku harus menyamakan ragamku. Langsing dan cantik seutuhnya bersama mereka.

Ternyata, setelah berjalan cukup jauh meniti peristiwa. Menjalani segala hal yang membuatku tertawa, terkejut, tergugu dan sedikit menangis. Aku menemukan diriku sendiri. Aku menemukan bagaimana aku bisa hidup. Bagaimana aku bisa melanjutkan perjalanan yang indah versi diriku sendiri.

Aku mencari teman yang sejalan dengan kepalaku. Aku menjajali pengalaman yang beragam, aku mengenal banyak sekali orang. Aku mempelajari beberapa soal-soal yang tak terdikte dalam pelajaran, termasuk bagaimana menghargai diri sendiri. Dan aku juga menemukan apa yang kusukai, menulis. Aku juga kerap beberapa kali jatuh cinta, meski aku rasa romansa masa muda terlalu dini untuk dibawa ke jenjang serius.

Hidup adalah soal memilih, dan semua orang berhak menentukan pilihannya. Pilihan mungkin tidak selamanya menyenangkan. Karena memang terdapat beberapa yang ditentukan oleh keinginan hati, atau karena keterpaksaan kondisi. Pilihan yang pastinya akan memberitahu hasil akhirnya. Dan aku memilih, menjalani apa yang terjadi.

Aku sudah dewasa, dan aku tetap seperti ini. Tidak cantik dengan kategori seperti itu. Bukan berarti aku tak bisa menuju apa yang aku mau. Jika memang aku tak bisa jadi pemeran utama dalam segala sinema, bukan berarti aku tak boleh membuat cerita, kan?

Seperti pesan narasumber pra wisudaku di strata satu. Laki-laki yang dipanggil akrab Rici itu memelukku dengan kata-kata indahnya. Katanya, “Memang ada beberapa hal yang tak bisa kita masuki koridornya. Tapi bukan berarti kita tak punya jatah koridor. Bisa saja, jalan kita lebih sejahtera dan tentram.”

Mungkin akan iri juga tidak bisa menjajali seluruh koridor. Tapi memang, benar. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Seperti yang kubaca pada buku Berati Tidak Disukai milik Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, dalam buku itu terdapat pembicaraan antara filsuf dan pemuda yang ingin tercerahkan hidupnya.

Pemuda itu bertanya “Aku ingin bersinar, ceria dan disukai banyak orang, seperti Y. Tapi apakah aku bisa seperti dia? Meskipun aku seorang pendiam. Katamu, orang bisa berubah, jadi apakah aku bisa seperti Y?

Jawaban filsuf membuatku sedikit terhenyak ,“langkah pertama dalam berubah adalah mengetahui.

Ya, kita memang hidup dengan banyak ragam, banyak hal yang membuat kita terkadang ingin hidup seperti seseorang tertentu, iri ingin jadi bersinar dan tampak sempurna. Lalu kala mendengar statement bahwa seseorang bisa berubah, kita jadi berharap ingin jadi sepertinya. Namun kita kerap lupa bahwa perubahan tidak hanya sekedar menjadi, namun juga bagaimana mengetahui.  

Lalu, apa yang ingin aku minta dalam hidup ini? 

Kita tidak cantik, kita tidak ganteng. Tapi mereka bukan oksigen yang perlu kita butuhkan. Bisa saja, itu hanyalah pretensi dari visualisasi masyarakat yang sebenarnya, sama-sama minder dengan dirinya sendiri. Mereka mendamba yang sama namun tetap mencoba tampak menang. Padahal, di lubuk hati kita semua, kita adalah pecundang yang tak menemukan makna menang.

Menekuri fakta menyedihkan itu dan mencari validasi sempurna, hanya akan membuatku tak bisa berbahagia atas keadaan. Tidak bahagia bukan berarti tidak dapat jatah, tapi kita yang menganggap kebahagiaan itu tak ada. 

‘Aku tak cantik, kata mereka’ ada benarnya. Nilai jualku bukan di sana. Tapi dari apa yang ada di kepalaku, yang ada di kedua tanganku dan mulutku yang bisa memberikan ketenangan lewat bait kata yang kupelajari. Aku memang tak akan pernah bisa jadi cantik. Dan aku tahu, bahwa biasa-biasa saja juga bukan sebuah dosa.  Aku hanya perlu menikmati koridorku sebagai manusia biasa, manusia yang tak menumbuhkan suka pada mata laki-laki. Tapi bukan berarti aku tak bisa hidup bermartabat? Aku bisa, dan koridor itu masih bisa kujajal.

Soal cinta, hakikatnya, hidup tak hanya sekedar memikat. Memberikan labeling laku di mata lelaki. Mendapatkan predikat pacar dan disukai banyak kaum adam. Tapi soal aku bisa menerima diriku, mencintai semua yang ada di dalam diriku. Bagaimana aku masih bisa menjalankan aktivitas sebagai manusia. Lagipula, aku juga memiliki teman-teman yang baik. Teman yang punya intelektual yang aku akui keren, teman yang bisa memanusiakan aku selayaknya perempuan. Aku bukan tahanan yang tak diperbolehkan menjelaskan pikiranku dan segala aktivitasku tak dibatasi.

Aku tetap hidup dengan baik dan menjalani semuanya dengan perasaan riang dan antusias. Tidak punya dan tidak bisa menjajal koridor itu, tak apa. Hidup masih berjalan. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan lagi?


Jumat, 02 Juni 2023

Perspektif 3: People Come and Go? Nyakitin!




Hidupku sudah cukup rumit, jangan datang kalau cuma mau sistemnya cuma come and go.”

_

Sebagai mahkluk sosial yang selalu butuh orang lain dalam hidup, fakta tentang people come and go adalah hal yang menyakitkan. Kayak, bisa nggak sih, tetap stay saja dan tidak perlu beradaptasi lagi. Capek banget tau, harus mengulang memperkenalkan diri terus menerus, mengenal orang baru yang kita tahu bakal nggak stay lama juga buat kita dan yang bahkan kita nggak tahu bisa cocok sama kita atau enggak?

Rasanya juga sakit sekali jika orang-orang ternyata hanya lewat dalam kehidupan kita. Bikin kita ngerasa ‘kayak, kalau cuma mampir kenapa harus hadir?’ Belum lagi kalau minggatnya dengan mode ghosting. Sudahlah, angkat tangan bagaimana sakitnya perjalanan hidup yang kayak gitu.

Ketemu sama orang yang sudah kita anggap cocok sebagai pasangan nih, bisa diajak menghadapi kerasnya dunia bersama dan yakin pake banget kalau kita sama dia hidup bakal balance karena banyak hal yang bisa kita lalui, jadi teman cerita, teman yang ngerti dan support system yang perlu dijaga keberadaannya. Tapi ending-nya, perjalanan yang sudah sampai tengah membuat kita tidak bisa melanjutkan. Ada yang berubah, kayak dia ternyata sudah tidak manis, sudah tidak sependapat dan banyak sekali hal yang membuat kita merasa, kok gini? Pada akhirnya kandas sudah mimpi-mimpi dan pergi meninggalkan. Hidup masing-masing lagi. Jadi asing lagi, huhu.

Fase nyakitin dari people come and go juga ketika waktu harus membuat kita terpisah dengan teman-teman yang rasanya sudah seperti keluarga; teman-teman yang sudah nyaman banget dan begitu luar biasa indahnya dalam perjalanan kita. Rasanya, nggak pengen terpisah… harus bareng selamanya. Makanya, banyak orang yang nggak mau kehilangan orang-orang tersebut dengan melakukan perjalanan hidup yang sama-sama, lagi. Contoh, aku dekat banget sama sahabat perjuangan sekampus, nyari kerja sama dia ah biar sama-sama terus. Pada akhirnya beneran bareng terus, tapi malah ngerasa bosan dan ada sampai di tahap cemburu karena di pekerjaan; aku sama dia punya orientasi yang berbeda, dia punya teman baru yang lebih asyik di divisinya.

 Tentu saja fakta itu membuat kayak dikhianati dan membentuk banyak sekali rasa insecurity seperti ‘Apa aku udah nggak jadi temennya ya? Kok dia lebih asyik sama mereka. Janjinya selamanya bareng. Aku padahal kan udah jadi temennya lama, kok… kokk… dia malah senang-senang sama teman barunya’…

It’s felt hurt, bro. Meski pada kasus, tidak semua orang ngerasa begitu. Dan, di waktu yang tanpa kita sadari juga, kita juga bisa menyakiti orang yang merasa kita jadi pelakunya—ninggalin teman lama karena merasa, teman yang baru lebih asyik.

Sebagai manusia bijak, asyik… hahaha. Rubah aja deh, sebagai orang yang selalu tumbuh, harusnya kita nggak boleh sedih soal fakta people come and go. Karena pada kenyataannya pikiran kita terlalu kecil untuk bisa memikirkan banyak hal yang kurang perlu diprioritaskan. Waktu kita juga terlalu sedikit untuk bisa memenuhi banyak pertemuan dengan manusia. Kita yang ngerasa ditinggal orang-orang karena tidak berarti bagi mereka, harusnya juga sadar bahwa bukan berarti kita tidak berarti untuk orang lainnya kan? Because, kita semua berbeda dan nggak semua punya butuh yang sama.

Kalau kita berpisah sama orang yang kita sayang (read: pacar/gebetan) dengan banyak alasan yang bikin kita nangis, ya udah, nggak apa. Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk bisa sayang sama kita. Kita juga nggak bisa terus-terusan harus mempertahankan seseorang yang sudah sangat sering menebar luka untuk kita dengan alasan merasa; aku nggak mau kehilangan dia.

Coba mampir di lagunya Mbak Raissa Anggiani yang Losing Us, liriknya jelas banget berbuat bijak untuk nggak papa ketika kehilangan seseorang; “and I said why would I comeback to you. If you don’t need me too. I’ll be losing you and you’ll be losing me.

Jadi, sekarang masih mau keukeuh dengan pikiran nggak mau kehilangan seseorang dan membuat kita kehilangan diri sendiri? Kalau aku sih, no. Karena kita akan selalu menemukan yang tepat lagi di depannya dan memang pada kenyatannya apa yang datang juga akan pergi. Kita hidup di dunia ini cuma mampir kan?

Serta, jika memang kita akan berpisah dengan teman sekelas, teman dekat dan teman kerja yang sudah ngerasa klop. Aku rasa, tidak masalah. Itu hanya berpisah kok, bukan berarti saling meninggalkan. Makna tiap ‘masa akan ada orangnya, dan tiap orang akan ada masanya’ itu benar banget. Karena, jika memaksakan masuk ke dalam ruang yang sama ke depannya, kita juga nggak akan pernah tahu akan berhasil atau tidak. Bisa saja, ngerasa seperti kasus di atas tadi. Dan, sepertinya, kenangan memang perlu dikotak-kotakan biar kita nggak miss dalam mengingat dan jadi tumpang tindih karena banyak sekali persilangan orang yang sama di moment yang berbeda. Tiap ruang hati kan memang selalu ada orang yang beda.

Mungkin, memang bakal ngerasa ‘duh, dulu itu kita apa-apa bareng, sering ketemu dan melakukan hal-hal yang kita suka dengan mudah. Sekarang kok, hanya untuk ketemu susah ya, sudah punya dunianya masing-masing.’ Itu wajar banget kok kerasa, karena memang manusia akan selalu ingin hidup di zona nyamannya. Kita selalu takut dengan orang-orang baru yang akan datang, selalu takut tidak akan dapat ruang yang menyenangkan seperti teman SD, SMP, SMA, Kuliah dan lainnya. Mungkin memang berpisah, tapi kita masih bisa menemui mereka untuk bercerita kisah-kisah hangat dan mengenang masa lalu.

Meski akan selalu takut, tapi janganlah tidak melangkah keluar. Karena, akan banyak sekali hal baru yang membuat kita berkembang juga. Kayak, ternyata teman baru kita ahli di bidang bisnis yang membuat kita mulai kenal dengan dunia bisnis, teman baru ternyata lebih alim yang bikin kita nambah tuh list-list sunnahnya. Semua orang itu, punya kesan berbeda-beda, jadi dalam dunia kita yang sebentar itu akan semakin sayang kalau kenalan kita sempit.

Makna people come and go tadi, mungkin terkesan membuat kita tidak bisa stay dan tampak mandiri yang egois ya. Tapi sebenarnya tidak, aku ingin memberikan pandangan soal kita akan selalu hidup dengan perubahan. Jika dulu kita selalu takut pergi sendirian, kita bisa mencoba lebih berani pergi sendiri, yang siapa tahu di perjalanan kita bakal nemu orang baru. People come and go memang nyakitin, tapi tetap bertahan karena merasa nggak mau ganti orang, juga membuat kita akan terkurung dalam kotak kecil.

Jangan pernah takut. Semua perjalanan dalam dunia ini, akan selalu punya kesan dan pesan. Cerita-ceritanya pun juga akan lebih berwarna dengan orang-orang baru dan lama. Maka, jangan bersedih untuk semua orang yang baru berpisah dengan teman, yang baru lulus, yang baru pindah kerja atau yang sedang ditinggalkan. Karena, akan selalu ada orang baru, cerita baru yang siap kalian isi dan nikmati. Semoga kita semua selalu diberi kesempatan baik dan bertemu dengan orang-orang baik ya. Aamiin.

 

 

Jumat, 03 Februari 2023

Perspektif 2: Kalau Menikah itu Kayak Piknik



“Jika hidup semudah saling jatuh cinta, maka aku ingin menikah besok.”


‘Lembaga pemerintahan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya untuk menjadikan negara ini lebih baik, dengan melakukan rekomendasi untuk pernikahan dilakukan pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan, sedangkan laki-laki minimal 25 tahun.’ Kata media databook.com di salah satu artikelnya. 

Data yang diterbitkan pada Desember lalu jelas saja menjadi penegasan bahwa usia dalam perkawinan memang perlu ditetapkan. Hal itu berguna untuk mengurangi nikah muda yang menjadikan angka perceraian di Indonesia melonjak tajam. Kebanyakan disebabkan karena pertengkaran yang menjadi jawaban pada the ending dari rumah tangga yang diharapkan bahagia itu. Percaya atau tidak, usia seseorang jelas mempengaruhi psikologinya.

Aku tahu betul berita mengenaskan itu, berita yang tak pernah basi pembahasannya karena selalu diperbarui oleh kasus-kasus barunya. Setiap saat dan setiap hari, akan selalu ada seseorang mengunjungi kantor pengadilan agama untuk mengurus rumah tangganya yang carut-marut. Tak peduli ia artis berkendara mewah,seseorang keluarga yang berpenghasilan di industri pabrik atau yang berpengangguran pun, tak pernah lepas dari perceraian. Perceraian seakan menjadi takdir yang diantrikan oleh pasangan yang memimpikan pernikahan muda dan bahagia–sayangnya, mimpi itu harus dibenamkan dalam-dalam karena dunia itu realistis. Padahal sebenarnya, perceraian tak harus terjadi. Dengan berbagai upaya, mungkin salah satu upaya dari pemerintah adalah dengan meninggikan angka minimum calon pengantin.

Bergeser dari realitas yang miris ini, hidupku juga tersenggol dari hal-hal tersebut. Bukan karena angka perceraiannya, tapi ya namanya soal kehidupan. Pernikahan adalah sebuah topik pembicaraan paling anget untuk orang seusiaku. Waktunya menikah, kata mereka.

Pemerintah sudah memberikan pemberitahuan dengan jelas bahwa minimal usia menikah. Kemudian hal itu juga sudah dilakukan sosialisasi besar-besaran dengan membuat iklan layanan masyarakat untuk menjadi edukasi bersama bahwa memang usia paling ideal menikah adalah dengan kedua angka tersebut. Tapi, sepertinya pemahaman orang-orang di sekitarku–tepatnya tempat aku tinggal–menganggap kata ‘minimal 21 tahun’ diubahnya menjadi ‘maksimal’. Berubah drastis. Perubahan kata itulah yang menjadikan aku, seperti perawan tua bagi mereka.

Padahal sebenarnya, usia di bawah 20 tahun adalah fase sederhana tapi kompleks bagi remaja. Ia baru saja melalui fase memikirkan dirinya sendiri dan jati dirinya, malah harus dihadapkan untuk hidup berdampingan dengan seseorang. Ya, kembali lagi pasti akan ada sangkalan beberapa orang bahwa ‘nggak semua orang kan begitu, bisa aja dia sudah dewasa, dan bla-bla-bla’. Silahkan berkomentar, tapi untukku, aku yang paling tahu usia idealku sendiri.

Usiaku sudah 22 tahun, ini sudah merangkak berubah tahun yang artinya sebentar lagi aku akan berubah menjadi 23 tahun. Dua tahun lebih tua dari kata minimal tersebut. Dan bagi mereka itu sudah menjadi masalah. Cukup bermasalah. Sebenarnya itu menjadi alasan aku malas pulang ke rumah. Pasalnya tak ada yang kubanggakan di tanggal kapan aku menikah, jangankan itu, menggandeng siapa nanti itu masih rahasia ilahi.

Kukira pertanyaan kapan menikah itu hanyalah pertanyaan sederhana. Pertanyaan yang dulu kuanggap dilebih-lebihkan kawula muda kala melakukan pertemuan keluarga. Ternyata, memang menyebalkan. Seakan, menikah adalah sebuah perlombaan yang apabila menang, kamu bakal dapat satu unit rumah. Kalau memang ada, aku akan menikahi siapapun, yang penting dapat rumah.

Tapi guys, menikah bukan soal when i fall in love with him, i wanna marry him. Tidak semudah itu. Meski memang benar, salah satu landasan dalam pernikahan memang saling mencintai. Serta tak sedikit juga yang melakukan perceraian karena salah satu tidak cinta–lagi. Tapi urusan pernikahan tidak semudah itu, tidak seklise itu. Menikah adalah urusan lain dari pada dua manusia yang memadu kasih. Soal pernikahan, lebih rumit dari pada daftar S2!

Aku memang belum pernah menikah, tapi aku tahu resiko yang akan aku dapat dari menikah. Lebih tepatnya, apa yang akan aku terima dan dapatkan nantinya setelah statusku resmi menjadi istri. Aku paham betul makna bibit-bebet-bobot itu perlu. Sudah tidak pandang bagaimana rupawannya, bagaimana ia cintanya. Semua perlu dipertimbangkan termasuk bagaimana nanti aku berkomunikasi sama calon suamiku. Siapa tahu, aku nanti dapat suami orang Korea, apa nggak merepotkan kalau aku nggak bisa bahasa Korea–tapi, kalau aku nggak bisa bagaimana kami bisa mengenal?

Ah, lagi. Pernikahan memang harus dipertimbangkan dengan banyak hal. Bagaimana kalau suatu saat aku tidak bisa memahaminya, atau aku yang syok dengan cara dia bangun tidur, bagaimana kalau dia melakukan hal menyebalkan seperti ditanya mau makan apa dia bingung dan bagaimana kalau aku suka marah-marah kalau dia menaruh handuk sembarangan di kasur. Bukannya aku memikirkan hal-hal buruk, tapi lebih ke apakah aku siap dengan hal seperti itu tanpa merasa emosi.

Pernikahan bekalnya memang tidak hanya cinta dan finansial. Aku bakal berjumpa dengan orang baru yang karakternya bakal diluar dugaan kita. Berbeda dengan orang tua yang sudah mengenalku, seseorang baru ini tugasnya akan lebih kompleks. Ia jadi nahkoda, namun juga sebaya denganku. Keegoisan diri dalam mandiri perlu dikurangi, karena kembali lagi, sebagai perempuan memang harus siap jadi makmum bagi suaminya. 

Belum lagi, kalau ternyata suamiku orang yang saklek, akan seperti apa obrolan itu jika ternyata aku juga saklek. Apa nggak berakhir lempar-lemparan kompor tuh? Kan nggak seru kalau barang yang baru dibeli satu bulan lalu hancur karena komunikasinya yang tidak dibangun dengan baik. Karena menikah itu, soal bagaimana kita bisa kongsi dengan baik, bersama seseorang yang baru itu.

Menanggapi hal-hal tersebut, maka banyak orang akan menjawab dengan percaya diri. Itulah fungsinya mengenal, biar kita bisa memilih pasangan. Biar kita bisa menentukan seperti apa pasangan kita. Kalau sikap dia jahat dan patriarki, ya sudah tinggalkan. Jawaban itu memang masuk akal, tapi kembali lagi orang itu berubah. Iya, kalau pas awal kenal manis, gentle dan bisa menjadikan kita terkagum-kagum. Terus ketika sudah menikah sama kita, sikap aslinya keluar. Sikap keras kepalanya dan beberapa hal yang ternyata tidak sevisi sama kita. Apa nggak repot?

Semua itu memang nggak bisa kita pilih orangnya, tapi kita bisa mengurangi kekagetan itu dengan menyiapkan diri. Karena sebenarnya soal mempersiapkan pernikahan, bukan dengan siapa kamu bersanding, tapi bagaimana kamu siap disanding. Perasaan dan sikap orang bisa berubah, karena memang kita nggak boleh percaya 100 persen. Tapi bagaimana respon kamu dan perasaan kamu, kembali lagi menjadi urusan kamu. Berusahalah untuk tetap dewasa dalam menanggapi permasalahan. Jika suatu saat suamimu keras kepala, kamu bisa menjadi air yang menyejukkannya. Kemudian apabila ternyata kamu bimbang dalam menentukan jawaban, suamimu yang realistis itu dapat menjawabnya dengan logis. Dua keseimbangan itu bisa tercipta dari orang yang siap.

Belajar dalam mempersiapkan pernikahan memang perlu dipersiapkan dengan serius. Ia perlu memahami segala lini problema; segi psikologis, segi agama, segi budaya,  segi ekonomi, segi manajemen, segi sosial dan segi kesehatan. Sudah seperti dunia pendidikan deh yang memahami ilmu disiplin apapun–tapi memang itu tidak mudah, serius. Perbedaan dari pasanganmu akan menjadi buku baru yang harus siap kamu pelajari. Karena ketika kamu mencoba memahami seseorang, kamu juga akan belajar memahami dirimu sendiri. Persiapkanlah dirimu dalam piknik paling panjang itu, jangan mabuk jangan pula pusing. Jadinya kita nggak enjoy sama perjalanannya.

Menikah itu soal yang bukan sebentar, menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Gimana mau betah ibadah sepanjang hidup kalau kamu ibadah wajib aja suka buru-buru dan suka menyepelekannya. Persiapkan itu dengan maksimal, paling tidak jangan sampai merugikan siapapun–termasuk kepercayaan yang sudah kamu bangun bersama nahkodamu itu.

Kepada siapapun orang terdekatku, yang meminta aku ingin menikah cepat, terima kasih. Aku tahu niat kalian baik ingin aku merasakan kebahagiaan sebagai seorang istri. Tapi ini bukan soal bersenang-senang saja, ada perjalanannya yang hanya aku dan suamiku yang menjalaninya. Semua itu perlu persiapan, dan sekiranya aku meminta kalian untuk membantu itu. Kemudian soal waktunya, akan ada masanya ketika Tuhan sudah bersedia menyerahkan kepercayaan itu padaku. Doakan saja yang terbaik.