Jumat, 02 Juni 2023

Perspektif 3: People Come and Go? Nyakitin!




Hidupku sudah cukup rumit, jangan datang kalau cuma mau sistemnya cuma come and go.”

_

Sebagai mahkluk sosial yang selalu butuh orang lain dalam hidup, fakta tentang people come and go adalah hal yang menyakitkan. Kayak, bisa nggak sih, tetap stay saja dan tidak perlu beradaptasi lagi. Capek banget tau, harus mengulang memperkenalkan diri terus menerus, mengenal orang baru yang kita tahu bakal nggak stay lama juga buat kita dan yang bahkan kita nggak tahu bisa cocok sama kita atau enggak?

Rasanya juga sakit sekali jika orang-orang ternyata hanya lewat dalam kehidupan kita. Bikin kita ngerasa ‘kayak, kalau cuma mampir kenapa harus hadir?’ Belum lagi kalau minggatnya dengan mode ghosting. Sudahlah, angkat tangan bagaimana sakitnya perjalanan hidup yang kayak gitu.

Ketemu sama orang yang sudah kita anggap cocok sebagai pasangan nih, bisa diajak menghadapi kerasnya dunia bersama dan yakin pake banget kalau kita sama dia hidup bakal balance karena banyak hal yang bisa kita lalui, jadi teman cerita, teman yang ngerti dan support system yang perlu dijaga keberadaannya. Tapi ending-nya, perjalanan yang sudah sampai tengah membuat kita tidak bisa melanjutkan. Ada yang berubah, kayak dia ternyata sudah tidak manis, sudah tidak sependapat dan banyak sekali hal yang membuat kita merasa, kok gini? Pada akhirnya kandas sudah mimpi-mimpi dan pergi meninggalkan. Hidup masing-masing lagi. Jadi asing lagi, huhu.

Fase nyakitin dari people come and go juga ketika waktu harus membuat kita terpisah dengan teman-teman yang rasanya sudah seperti keluarga; teman-teman yang sudah nyaman banget dan begitu luar biasa indahnya dalam perjalanan kita. Rasanya, nggak pengen terpisah… harus bareng selamanya. Makanya, banyak orang yang nggak mau kehilangan orang-orang tersebut dengan melakukan perjalanan hidup yang sama-sama, lagi. Contoh, aku dekat banget sama sahabat perjuangan sekampus, nyari kerja sama dia ah biar sama-sama terus. Pada akhirnya beneran bareng terus, tapi malah ngerasa bosan dan ada sampai di tahap cemburu karena di pekerjaan; aku sama dia punya orientasi yang berbeda, dia punya teman baru yang lebih asyik di divisinya.

 Tentu saja fakta itu membuat kayak dikhianati dan membentuk banyak sekali rasa insecurity seperti ‘Apa aku udah nggak jadi temennya ya? Kok dia lebih asyik sama mereka. Janjinya selamanya bareng. Aku padahal kan udah jadi temennya lama, kok… kokk… dia malah senang-senang sama teman barunya’…

It’s felt hurt, bro. Meski pada kasus, tidak semua orang ngerasa begitu. Dan, di waktu yang tanpa kita sadari juga, kita juga bisa menyakiti orang yang merasa kita jadi pelakunya—ninggalin teman lama karena merasa, teman yang baru lebih asyik.

Sebagai manusia bijak, asyik… hahaha. Rubah aja deh, sebagai orang yang selalu tumbuh, harusnya kita nggak boleh sedih soal fakta people come and go. Karena pada kenyataannya pikiran kita terlalu kecil untuk bisa memikirkan banyak hal yang kurang perlu diprioritaskan. Waktu kita juga terlalu sedikit untuk bisa memenuhi banyak pertemuan dengan manusia. Kita yang ngerasa ditinggal orang-orang karena tidak berarti bagi mereka, harusnya juga sadar bahwa bukan berarti kita tidak berarti untuk orang lainnya kan? Because, kita semua berbeda dan nggak semua punya butuh yang sama.

Kalau kita berpisah sama orang yang kita sayang (read: pacar/gebetan) dengan banyak alasan yang bikin kita nangis, ya udah, nggak apa. Memang pada kenyataannya, kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk bisa sayang sama kita. Kita juga nggak bisa terus-terusan harus mempertahankan seseorang yang sudah sangat sering menebar luka untuk kita dengan alasan merasa; aku nggak mau kehilangan dia.

Coba mampir di lagunya Mbak Raissa Anggiani yang Losing Us, liriknya jelas banget berbuat bijak untuk nggak papa ketika kehilangan seseorang; “and I said why would I comeback to you. If you don’t need me too. I’ll be losing you and you’ll be losing me.

Jadi, sekarang masih mau keukeuh dengan pikiran nggak mau kehilangan seseorang dan membuat kita kehilangan diri sendiri? Kalau aku sih, no. Karena kita akan selalu menemukan yang tepat lagi di depannya dan memang pada kenyatannya apa yang datang juga akan pergi. Kita hidup di dunia ini cuma mampir kan?

Serta, jika memang kita akan berpisah dengan teman sekelas, teman dekat dan teman kerja yang sudah ngerasa klop. Aku rasa, tidak masalah. Itu hanya berpisah kok, bukan berarti saling meninggalkan. Makna tiap ‘masa akan ada orangnya, dan tiap orang akan ada masanya’ itu benar banget. Karena, jika memaksakan masuk ke dalam ruang yang sama ke depannya, kita juga nggak akan pernah tahu akan berhasil atau tidak. Bisa saja, ngerasa seperti kasus di atas tadi. Dan, sepertinya, kenangan memang perlu dikotak-kotakan biar kita nggak miss dalam mengingat dan jadi tumpang tindih karena banyak sekali persilangan orang yang sama di moment yang berbeda. Tiap ruang hati kan memang selalu ada orang yang beda.

Mungkin, memang bakal ngerasa ‘duh, dulu itu kita apa-apa bareng, sering ketemu dan melakukan hal-hal yang kita suka dengan mudah. Sekarang kok, hanya untuk ketemu susah ya, sudah punya dunianya masing-masing.’ Itu wajar banget kok kerasa, karena memang manusia akan selalu ingin hidup di zona nyamannya. Kita selalu takut dengan orang-orang baru yang akan datang, selalu takut tidak akan dapat ruang yang menyenangkan seperti teman SD, SMP, SMA, Kuliah dan lainnya. Mungkin memang berpisah, tapi kita masih bisa menemui mereka untuk bercerita kisah-kisah hangat dan mengenang masa lalu.

Meski akan selalu takut, tapi janganlah tidak melangkah keluar. Karena, akan banyak sekali hal baru yang membuat kita berkembang juga. Kayak, ternyata teman baru kita ahli di bidang bisnis yang membuat kita mulai kenal dengan dunia bisnis, teman baru ternyata lebih alim yang bikin kita nambah tuh list-list sunnahnya. Semua orang itu, punya kesan berbeda-beda, jadi dalam dunia kita yang sebentar itu akan semakin sayang kalau kenalan kita sempit.

Makna people come and go tadi, mungkin terkesan membuat kita tidak bisa stay dan tampak mandiri yang egois ya. Tapi sebenarnya tidak, aku ingin memberikan pandangan soal kita akan selalu hidup dengan perubahan. Jika dulu kita selalu takut pergi sendirian, kita bisa mencoba lebih berani pergi sendiri, yang siapa tahu di perjalanan kita bakal nemu orang baru. People come and go memang nyakitin, tapi tetap bertahan karena merasa nggak mau ganti orang, juga membuat kita akan terkurung dalam kotak kecil.

Jangan pernah takut. Semua perjalanan dalam dunia ini, akan selalu punya kesan dan pesan. Cerita-ceritanya pun juga akan lebih berwarna dengan orang-orang baru dan lama. Maka, jangan bersedih untuk semua orang yang baru berpisah dengan teman, yang baru lulus, yang baru pindah kerja atau yang sedang ditinggalkan. Karena, akan selalu ada orang baru, cerita baru yang siap kalian isi dan nikmati. Semoga kita semua selalu diberi kesempatan baik dan bertemu dengan orang-orang baik ya. Aamiin.