Kamis, 14 Desember 2023

#Nulis 02: Keindahan Makam Sunan Muria, Ada Bakul Kopi Muria yang Tersembunyi


Eksistensi wisata religi makam Sunan Muria sepertinya sudah tak perlu dijelaskan lagi. Setiap hari ada saja peziarah yang datang mengunjunginya, dari yang dekat seperti saya, atau yang rombongan dengan bus pariwisata. Biasanya mereka adalah rombongan peziarah dari luar kota. Dari yang fasih bahasa Jawa, yang ngapak, dan yang bule pun pernah mampir di makam yang perlu tenaga ke sana.

Tapi sepertinya, bagi yang belum tahu bisa saya jelaskan lebih banyak soal Wisata Religi Makam Sunan Muria dan hal-hal indah yang tersembunyi di dalamnya.

Lokasi makam Sunan Muria

Sunan Muria bernama asli Raden Umar Said, dan beliau dimakamkan di Gunung Muria. Sunan Muria juga menjadi salah satu dari kesembilan Walisongo yang menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa.

Dari beberapa makam para sunan, yang paling saya sukai adalah Makam Sunan Muria, sebab lokasinya berada di Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kalau ke sini, bakal disuguhkan pemandangan luar biasa Kudus dari mata Gunung Muria. Belum lagi kalau malam, berasa melihat taburan bintang tapi di bawah.

Saya kerap datang ke sana, nggak sering-sering juga, mentok hanya 3-4 kali selama setahun. Meski saya berdomisili di Kudus, jaraknya cukup jauh dari pusat kota, membikin saya tidak bisa mengunjungi terus-menerus. Belum lagi untuk naik ke atas, iya ke makamnya.

Akses menuju makam Sunan Muria

Kalau mau ke sana, paling tidak sudah harus siap duit 40 ribu untuk berangkat-pulang naik ojek menuju ke makamnya. Kenapa?

Akses kendaraan beroda empat hanya bisa sampai parkiran. Sebenarnya bisa naik motor sendiri ke atas, tapi saya sarankan jangan gegabah. Jalannya sempit dan berliku-liku, belum lagi bersimpangan dengan para ojek yang seperti peraga tong setan. Mending, saya lebih sayang nyawa saja. Duit 40 ribu bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa ditukar tambah.

Sebenarnya ada jalur untuk pejalan kaki, ribuan tangga yang diapit pasar. Tapi memang, anda harus siap banyak tenaga. Karena untuk sampai ke makam, harus nanjak lagi dan itu bikin napas ngos-ngosan dan dengkul linu. Pokoknya, yang tenaganya tidak fit, jangan coba-coba sebelum anda merasakan simulasi sakaratul maut.

Perjumpaan dengan bakul kopi

Berawal dari kebodohan saya Agustus lalu, yang coba-coba jalan kaki menuju makam Sunan Muria. Biasanya saya ngojek, tapi saat itu pengin merasakan sensasi jalan kaki. Padahal lupa jati diri bahwa saya remaja jompo yang asing berutinitas olahraga.

Baru setengah jalan, napas saya sudah seperti kambing disembelih. Muka merah dan badan gemetar. Situasi ini  membikin saya pengin muntah. Sebab, dalam badan saya panas, dan tubuh saya diguyur banjir keringat. Minum air putih tidak mempan, yang ada saya menangis karena menyesali memilih jalan kaki.

Lalu saya memutuskan untuk berhenti, mampir di salah satu warung sederhana di tengah-tengah Pasar Makam Muria yang sedikit lengang, maklum hari Selasa. Saya memesan Lee Minerale dingin untuk menetralkan tubuh dan Pop Mie untuk mengusir gemetar. Situasi pasar sepi, jadi saya bisa leluasa menikmati pesanan dengan ngobrol bersama Mbah Yatmi, pemilik warung tanpa nama ini.

Lokasinya berada di tengah jalur Pasar dan dekat dengan pemberhentian ojek. Model warungnya seperti warteg yang menyajikan gorengan dan makanan berat. Dekat dengan tikungan yang langsung menghadapkan dengan pemandangan gunung Muria.

Di antara obrolan kami, yang menarik adalah soal kopi Muria. Kopi hasil tanah Muria yang sebenarnya belum pernah saya coba. Sepertinya enak, itu yang saya baca dari banyaknya bapak-bapak ojek yang memesan kopinya.

Nikmatnya kopi muria bikinan sendiri

Segelas kopi tiba di depan muka saya. Asapnya mengepul, menghangatkan wajah saya yang mendingin karena keringat. Aromanya harum, bikin saya ingin langsung menyeruputnya segera. Itu adalah perasaan yang saya rasakan ketika kopi itu disuguhkan oleh Mbah Yatmi kepada saya.

Katanya, “Dicoba dulu Mbak, dijamin nggak bikin kembung.” Saya sedikit yakin, sebab Mbah Yatmi bercerita biasa mengonsumsinya sehari 1-2 gelas. Tapi, saya kan, bukan pecinta kopi banget. Bahkan, sehari sebelumnya badan saya gemetar menjajal kopi susu di kafe.

Tapi setelah saya sesap, rasanya jiwa saya langsung dibawa naik di atas gunung Muria, ketemu burung-burung dan angin sore. Enak pol. Rasanya pas, manis dan tidak pekat untuk saya yang tidak kuat pahit. Tapi juga tidak terlalu legi untuk yang suka kopi. Yang bikin saya langsung jatuh cinta pun, karena tidak bikin kembung. Badan saya menghangat dan perasaan saya juga ikutan. Seperti ada resep rahasia yang ditabur dalam pembuatannya.

Hanya disangrai dengan jagung, Mbak.” Papar Mbah Yatmi yang mudah saja menjelaskan resepnya.

Benar. Resep rahasianya adalah jagung dan cinta. Mbah Yatmi yang penuh asih ini telah menyajikan kopi nikmat. Dan yang bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi yakni Mbah Yatmi memberikan kopi ini gratis, bayarannya adalah mengobrol banyak hal di sana.

Meski dikasih gratis, saya membayar lagi untuk datang ke sana kembali dan membeli kopi itu lagi, tapi kali ini, bonusnya saya diajak makan bareng keluarganya. Sungguh, nikmat yang perlu saya syukuri.

#Nulis 01: Mahasiswa Semester 7 Rajin Skripsian itu Kasih Semangat, Jangan Dikomen ‘Nanti Juga Males Lagi’


Pembahasan soal skripsi nggak akan pernah rampung selagi perguruan tinggi di Indonesia masih terus beroperasi. Saat ini skripsi masih menjadi syarat kelulusan bagi sebagian besar perguruan tinggi, meski di beberapa kampus lain sudah mulai mengadaptasi tugas akhir berupa proyek. Namun, eksistensi skripsi masih terus gemilang, walaupun namanya kerap jadi momok untuk mahasiswa, bagi yang belum menjajalnya pun pada yang sudah dibuat nangis-nangis menjalaninya.

Skripsi biasa dimulai ketika masa semester 6 berakhir, peralihan menuju semester 7.  Edarannya pun biasanya depan belakang dengan pembagian kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Waktu di mana mereka selalu antusias dengan identitas baru yang mereka miliki, ‘semester tua’  katanya. Hampir mirip dengan semangatnya mahasiswa baru, bedanya yang ini sudah merasakan asam garam perkuliahan.

Biasanya semangat dalam menyambut identitas mereka dibarengi dengan semangatnya menjanjal skripsi. Mulai rajin mengunjungi perpustakaan, bertanya soal tips-tips cari referensi yang valid pun bagaimana caranya bisa memenangkan hati dosen pembimbing skripsi. Pokoknya, mahasiswa semester 7 itu, merasa sudah menapak kehidupan dewasa di perkuliahan.

Sayangnya, semangat-semangat itu kadang dipadamkan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang menganggap mereka berlebihan. Biasanya berasal dari kakak tingkat mereka yang sudah semester dua digit. Katanya, “Nggak usah terlalu semangat, nanti pas di tengah skripsian biasanya kamu bakal males, belum lagi dosen kamu siapa? Yakin bisa kelar?”

Ungkapan tersebut kerap kali langsung bikin nyali mahasiswa semester 7 ciut, sekaligus beringsut malas mundur perlahan. Padahal, apa salahnya semangat?

Daripada membuat mereka takut, lebih baik dampingi mereka dan kasih semangat biar skripsi mereka lancar. Minimal, jangan bikin penerus kalian semakin banyak.

Biarkan mereka mengunjungi perpustakaan tanpa sungkan

Langkah awal dalam proses skripsi adalah dengan membaca-baca referensi. Mahasiswa biasanya langsung mengunjungi perpustakaan untuk langkah mudah memberi makan kebutuhan literasi mereka. Tapi, niat tersebut tidak lepas dari cibiran orang-orang.

“Halah paling juga habis itu nggak datang lagi.”

“Itu cuma pencitraan, palingan juga nggak ngapa-ngapain.”

Meski beberapa dari mereka ada yang baru saja menapaki perpustakaan kala ini, jangan dikatain ikut-ikutan. Bersyukur kalau mereka sudah ada semangat untuk mengunjungi perpustakaan. Bahkan, kalau mereka memposting kunjungan ke media sosial jangan dicibir. Biar mereka semangat, toh kalau kesusahan mereka juga bakal ngerasain, kok.

Melihat perpustakaan kampus ramai diisi mahasiswa semester 7 ketika awal semester itu nggak buruk. Mereka datang untuk melihat-lihat referensi skripsi, kok. Kalaupun cuma datang dan lihat-lihat, siapa tahu mereka akan terilhami dan betah untuk datang kembali. Mereka kan juga datang dengan tertib, bukan untuk bikin berisik dan memperlihatkan identitas mereka sebagai anggota baru mahasiswa semester tua.

Jangan nakut-nakutin soal karakter dosen yang susah

Kejadian ini saya rasakan sendiri di awal semester 7. Kala itu saya senang lantaran dapat dosen yang saya idamkan. Eksistensi beliau memang kerap jadi alasan mengapa saya pengin dibimbing beliau. Namun, ketika saya curhat kepada kakak tingkat yang satu bimbingan dengan beliau, saya dibuat ciut dan mikir dua kali.

“Kamu jangan senang dulu, kalau kamu sama Bapak itu. Kelihatannya aja baik, aslinya enggak. Nggak percaya? Aku nih, buktinya.” kakak tingkat itu menceritakan pengalamannya.

“Aku udah bikin sampe proposal tapi ditolak disuruh ganti judul,” imbuhnya lagi yang membuat saya langsung takut. Satu bulan saya bertanya-tanya, apa benar kalau dosen pembimbing idaman saya punya karakter sejahat itu?

Tapi setelah saya bimbingan berkali-kali dan mengobrol lebih masif, apa yang disampaikan kakak tingkat tidak seratus persen benar. Dosen pembimbing saya cenderung perhatian dan memahami siklus naik turun mahasiswanya. Mungkin memang, bagi beberapa mahasiswa yang lebih suka santai menganggap dosen tersebut tampak memburu-burui tanpa memperhatikan kondisi mahasiswanya. Padahal, nggak juga.

Tidak ada dosen yang sempurna, pun juga mahasiswa. Saya menyadari bahwa terkadang dosen yang punya stigma ‘nggak enak’ itu enak-enak saja. Kecocokan mahasiswa dan dosen itu memang perlu adanya, jadi bukan berarti tidak cocok dengan anda, bukan berarti juga sama dengan orang lain.

Nggak ada yang salah dengan ngerjain skripsi cepat

Proses pengerjaan skripsi itu memang nggak bisa dikotakkan dengan standar satu waktu. Bebas. Asalkan terdapat alasan yang masuk akal mengapa skripsi memang harus rampung di waktu tersebut.

Orang yang lulus lama pun, juga bukan berarti ngerjainnya malas. Bisa saja, dia sedang membahas mega permasalahan yang perlu diselesaikan dengan jutaan partisipan. Juga kepada yang mengerjakan hanya beberapa bulan, bukan berarti skripsinya ambil data sekenanya. Nggak mungkin dong, mereka langsung nempel-nempel data dari Wikipedia atau media lainnya. Terselesaikannya skripsi itu butuh dua dukungan, eksternal dan internal.

Jadi kalau ada mahasiswa semester 7 sedang rajin mengerjakan skripsi, bisa saja memang sudah punya target dan ada mimpi yang perlu diraih. Jadi, jangan dianggap sok ambis bahkan dikata nggak sopan mendahului senior-seniornya.

Tanpa dikasih tahu, pun, kita semua tahu skripsi itu capek jadi dukung dan semangati itu perlu

Banyak sekali pembahasan kalau fase terberat kuliah itu berada di skripsi. Dinamikanya selalu bikin kita terkuras secara emosi, fisik, dan finansial. Pesan jangan terlalu antusias dengan skripsi kerap kali disampaikan kepada kakak tingkat yang sudah dibuat babak belur dengan skripsi, atau dengan kakak tingkat yang takut mencoba skripsi tapi sudah takut duluan.

Kita semua tahu, sebagai orang yang pernah berkecimpung dengan proses skripsi, niat kita baik untuk memberi tahu agar tidak kaget ketika sedang ada di situasi capek skripsi. Namun sayangnya, pemberitahuan itu kerap disampaikan tanpa solusi dan dengan cara yang salah.

Membuat proses burn out skripsi jadi makin buruk dan buntu. Karena hal tersebut biasanya banyak mahasiswa akhir yang enggan melanjutkan dan menemui dosen pembimbing lantaran sudah kedarung capek tanpa dukungan.

Kita ketahui, dukungan dalam hal sulit itu sangat berdampak bagi kebangkitan seseorang. Jangan sampai, apa yang kamu katakan membuat orang bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Hih, ngeri kan jadinya.