_
Sebagai mahkluk sosial yang selalu butuh orang lain dalam hidup, fakta tentang people come and go adalah hal yang menyakitkan. Kayak, bisa nggak sih, tetap stay saja dan tidak perlu beradaptasi lagi. Capek banget tau, harus mengulang memperkenalkan diri terus menerus, mengenal orang baru yang kita tahu bakal nggak stay lama juga buat kita dan yang bahkan kita nggak tahu bisa cocok sama kita atau enggak?
Rasanya juga sakit sekali jika orang-orang ternyata
hanya lewat dalam kehidupan kita. Bikin kita ngerasa ‘kayak, kalau cuma mampir kenapa harus hadir?’ Belum lagi kalau
minggatnya dengan mode ghosting. Sudahlah,
angkat tangan bagaimana sakitnya perjalanan hidup yang kayak gitu.
Ketemu sama orang yang sudah kita anggap cocok
sebagai pasangan nih, bisa diajak menghadapi kerasnya dunia bersama dan yakin
pake banget kalau kita sama dia hidup bakal balance
karena banyak hal yang bisa kita lalui, jadi teman cerita, teman yang ngerti
dan support system yang perlu dijaga
keberadaannya. Tapi ending-nya,
perjalanan yang sudah sampai tengah membuat kita tidak bisa melanjutkan. Ada
yang berubah, kayak dia ternyata sudah tidak manis, sudah tidak sependapat dan
banyak sekali hal yang membuat kita merasa, kok gini? Pada akhirnya kandas
sudah mimpi-mimpi dan pergi meninggalkan. Hidup masing-masing lagi. Jadi asing
lagi, huhu.
Fase nyakitin dari people come and go juga ketika
waktu harus membuat kita terpisah dengan teman-teman yang rasanya sudah seperti
keluarga; teman-teman yang sudah nyaman banget dan begitu luar biasa indahnya
dalam perjalanan kita. Rasanya, nggak pengen terpisah… harus bareng selamanya. Makanya,
banyak orang yang nggak mau kehilangan orang-orang tersebut dengan melakukan
perjalanan hidup yang sama-sama, lagi. Contoh, aku dekat banget sama sahabat
perjuangan sekampus, nyari kerja sama dia ah biar sama-sama terus. Pada
akhirnya beneran bareng terus, tapi malah ngerasa bosan dan ada sampai di tahap
cemburu karena di pekerjaan; aku sama dia punya orientasi yang berbeda, dia
punya teman baru yang lebih asyik di divisinya.
Tentu saja
fakta itu membuat kayak dikhianati dan membentuk banyak sekali rasa insecurity seperti ‘Apa aku udah nggak
jadi temennya ya? Kok dia lebih asyik sama mereka. Janjinya selamanya bareng. Aku
padahal kan udah jadi temennya lama, kok… kokk… dia malah senang-senang sama
teman barunya’…
It’s felt hurt,
bro. Meski pada kasus,
tidak semua orang ngerasa begitu. Dan, di waktu yang tanpa kita sadari juga,
kita juga bisa menyakiti orang yang merasa kita jadi pelakunya—ninggalin teman
lama karena merasa, teman yang baru lebih asyik.
Sebagai manusia bijak, asyik… hahaha. Rubah aja
deh, sebagai orang yang selalu tumbuh, harusnya kita nggak boleh sedih soal
fakta people come and go. Karena pada
kenyataannya pikiran kita terlalu kecil untuk bisa memikirkan banyak hal yang
kurang perlu diprioritaskan. Waktu kita juga terlalu sedikit untuk bisa
memenuhi banyak pertemuan dengan manusia. Kita yang ngerasa ditinggal
orang-orang karena tidak berarti bagi mereka, harusnya juga sadar bahwa bukan
berarti kita tidak berarti untuk orang lainnya kan? Because, kita semua berbeda dan nggak semua punya butuh yang sama.
Kalau kita berpisah sama orang yang kita sayang (read: pacar/gebetan) dengan banyak
alasan yang bikin kita nangis, ya udah, nggak apa. Memang pada kenyataannya,
kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk bisa sayang sama kita. Kita juga
nggak bisa terus-terusan harus mempertahankan seseorang yang sudah sangat
sering menebar luka untuk kita dengan alasan merasa; aku nggak mau kehilangan
dia.
Coba mampir di lagunya Mbak Raissa Anggiani yang Losing
Us, liriknya jelas banget berbuat bijak untuk nggak papa ketika kehilangan
seseorang; “and I said why would I comeback to you. If you don’t need me too. I’ll be losing you and you’ll be losing me.”
Jadi, sekarang masih mau keukeuh dengan pikiran
nggak mau kehilangan seseorang dan membuat kita kehilangan diri sendiri? Kalau
aku sih, no. Karena kita akan selalu
menemukan yang tepat lagi di depannya dan memang pada kenyatannya apa yang
datang juga akan pergi. Kita hidup di dunia ini cuma mampir kan?
Serta, jika memang kita akan berpisah dengan teman
sekelas, teman dekat dan teman kerja yang sudah ngerasa klop. Aku rasa, tidak
masalah. Itu hanya berpisah kok, bukan berarti saling meninggalkan. Makna tiap ‘masa
akan ada orangnya, dan tiap orang akan ada masanya’ itu benar banget. Karena,
jika memaksakan masuk ke dalam ruang yang sama ke depannya, kita juga nggak
akan pernah tahu akan berhasil atau tidak. Bisa saja, ngerasa seperti kasus di
atas tadi. Dan, sepertinya, kenangan memang perlu dikotak-kotakan biar kita
nggak miss dalam mengingat dan jadi tumpang
tindih karena banyak sekali persilangan orang yang sama di moment yang berbeda. Tiap ruang hati kan memang selalu ada orang
yang beda.
Mungkin, memang bakal ngerasa ‘duh, dulu itu kita
apa-apa bareng, sering ketemu dan melakukan hal-hal yang kita suka dengan
mudah. Sekarang kok, hanya untuk ketemu susah ya, sudah punya dunianya
masing-masing.’ Itu wajar banget kok kerasa, karena memang manusia akan selalu
ingin hidup di zona nyamannya. Kita selalu takut dengan orang-orang baru yang
akan datang, selalu takut tidak akan dapat ruang yang menyenangkan seperti
teman SD, SMP, SMA, Kuliah dan lainnya. Mungkin memang berpisah, tapi kita
masih bisa menemui mereka untuk bercerita kisah-kisah hangat dan mengenang masa
lalu.
Meski akan selalu takut, tapi janganlah tidak
melangkah keluar. Karena, akan banyak sekali hal baru yang membuat kita
berkembang juga. Kayak, ternyata teman baru kita ahli di bidang bisnis yang
membuat kita mulai kenal dengan dunia bisnis, teman baru ternyata lebih alim
yang bikin kita nambah tuh list-list sunnahnya. Semua orang itu, punya kesan
berbeda-beda, jadi dalam dunia kita yang sebentar itu akan semakin sayang kalau
kenalan kita sempit.
Makna people come and go tadi, mungkin terkesan
membuat kita tidak bisa stay dan tampak mandiri yang egois ya. Tapi sebenarnya
tidak, aku ingin memberikan pandangan soal kita akan selalu hidup dengan
perubahan. Jika dulu kita selalu takut pergi sendirian, kita bisa mencoba lebih
berani pergi sendiri, yang siapa tahu di perjalanan kita bakal nemu orang baru.
People come and go memang nyakitin, tapi tetap bertahan karena merasa nggak mau
ganti orang, juga membuat kita akan terkurung dalam kotak kecil.
Jangan pernah takut. Semua perjalanan dalam dunia
ini, akan selalu punya kesan dan pesan. Cerita-ceritanya pun juga akan lebih
berwarna dengan orang-orang baru dan lama. Maka, jangan bersedih untuk semua
orang yang baru berpisah dengan teman, yang baru lulus, yang baru pindah kerja
atau yang sedang ditinggalkan. Karena, akan selalu ada orang baru, cerita baru
yang siap kalian isi dan nikmati. Semoga kita semua selalu diberi kesempatan
baik dan bertemu dengan orang-orang baik ya. Aamiin.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar