Kerja tuh ternyata capek, ya. Meski sudah banyak postingan sambat yang mewakili perasaan, dan yang spoiler bahwa kehidupan dalam bekerja itu pasti melelahkan. Tapi rasanya tetap tidak berkurang rasa capeknya. Melakukan ritual bangun pagi, menyelesaikan urusan duniawi (semoga jadi berkah akhirat). Lalu pulang menjelang petang. Kalau digebrak deadline, mendadak jadi pulang malam. Beneran menguras energi.
Dan, saat semuanya sudah sangat melelahkan dan menguras energi. Biasanya aku masuk kamar dan tidak berbincang dengan siapapun. Termasuk keluargaku. Seperti ingin berdiam diri, tidak melakukan obrolan, dan tidak berdekatan dengan orang. Meski beberapa kali, keluargaku jadi korban yang tidak mendapatkan waktuku yang tak seberapa. Begini-begini, meski terkenal ekstrovert, aku juga kalau capek diam. Tidak setiap hari, tapi biasanya begitu.
Aku kadang membayangkan, apa halnya suamiku–belum diketahui orangnya, tapi semoga dia yang punya kesabaran menyikapi waktu kekanak-kanakanku–jika aku lagi capek dan libur ngomong serta berdekatan. Apa tidak tabah hatinya melihat istrinya ini harus punya ruang sendiri. Sedikit saja tersentuh, aku dengan sangat mudah terpancing.
Tapi, kalau dipikir-pikir, memang sesuatu yang terlalu mendominan akan mengalahkan banyak hal lainnya. Saat sudah sangat totalitas dalam bekerja, perlahan kepentingan yang lain jadi tidak begitu penting. Atau, tidak bisa mementingkan karena kadung terbatas energinya.
Membikin aku yang seharusnya punya ruang untuk rumah, jadi mendadak berkurang.
Hal itu yang aku rasakan Jumat ini. Aku selalu merasa, hari Jumat selalu jadi hari paling unlimited jam kerjanya. Sebab dia di ujung hari, yang esok harus berlibur, mendadak pekerjaan minta dirampungkan hari itu. Segala deadline seakan ingin dipedulikan semuanya. Membuat aku jadi kelabakan sendiri.
Belum lagi ada laporan rutin yang kalau tidak ahli memanagemen waktu, bakal jadi hal yang membikin aku harus pulang lebih malam lagi.
Hari itu, aku melakukan absen pulang jam 7 malam. Saat lingkungan perusahaan sudah sepi, saat senja telah undur diri. Menyusuri jalanan yang gelap dengan kepala yang penat. Dengan sisa-sisa energi yang sudah tak ada semangat. Pokoknya, aku udah ingin menutup hari dan tidak bertemu siapapun.
Aku ingin istirahat, tapi rumah seperti punya cara membangunkan aku kembali. Kala aku mematikan motor di ruang tamu. Aku masuk ke kamar untuk melepas jilbab dan pernak-pernik baju kerja. Merebahkan badan yang mendadak jadi berat dan lengket. Memijit-mijit kepalaku yang gerah.
Meong!
Satu panggilan yang membuat aku menoleh sebentar. Loco, kucingku yang paling manja, menyenggol kakiku. Aku yang masih dalam posisi rebah, dengan malas bangkit.
Aku beringsut menuju ke luar pintu dan menyaksikan kucing-kucingku sudah berbaris acak di depan pintu. Banyak. Ada yang dewasa dan anak-anak. Kompak meminta jatah makan malam part kesekian–mereka sering berpura-pura seakan belum makan kepada orang rumah agar dapat jatah makan lebih banyak.
Aku tahu. Kucingku selalu punya kebiasaan menyambut orang yang datang dengan sepeda motor. Seperti mereka menghafal suara motor majikannya. Termasuk motorku. Maka sesaat aku bernafas di dalam rumah, mereka sudah langsung memberondongiku.
Aku capek. Badanku rasanya remuk, tapi entah kenapa aku meladeni mereka. Membuka toples dry food mereka, dan menuangkan dua kaleng ke nampan makanan mereka.
Memandangi mereka yang sibuk berebut makan. Satu rasa lelah di pundakku sedikit mereda, merasa bahwa mereka selalu punya cara untuk menarik perhatianku. Mencoba untuk bisa melibatkan aku untuk mengisi kehidupan rumah yang mereka ikuti.
Setelah memberi makan, aku melongok ke area tempat Mbahku menikmati ujung hari, di depan TV ruang tengah. Tapi saat itu televisinya mati dan Mbah sibuk mengolesi jempol kakinya dengan minyak yang tak kuketahui namanya. Jemarinya yang keriput, menelisik sela jemari dengan telaten.
Mbahku dengan sungkan melihatku. Aku merasa sedikit berbasa basi.
“Tumben sepi.”
Mbah menoleh ke aku. Matanya tersenyum, tapi canggung. Sepertinya aku merasa ada yang ia ingin sampaikan. Tapi saat melihat aku baru sekali pulang bekerja, kalimatnya jadi tersendat di tenggorokan.
Sampai kemudian ia mengatakan sesuatu. “TVku nggak mau keluar gambarnya. Aku jadi bosen.”
Sesaat kemudian aku mengerti bahwa ia meminta tolong aku untuk mengotak-atik TV lawasnya. TV yang sudah berusia 20 tahun itu, sepertinya ngambek.
“TVnya nggak bisa?"
Dengan menyisir rasa lelahku, aku berjalan perlahan menuju dekat TV. Sejujurnya, area TV termasuk jarang bahkan tidak pernah aku dekati. Aku menganggap itu bagian teritorial Mbahku, dan aku tak memiliki urgensi untuk ke situ.
“Nggak tahu. Kayaknya sepobobnya rusak. Soalnya tak pencet-pencet nggak bisa.” Sepobob, re: Set to Box.
Aku yang sebenarnya tidak mahir. Mencoba melakukan sebisaku, mencopoti seluruh kabel kemudian memasangnya, menonaktifkan lalu menyalakan lagi. Sampai kemudian, TV lawas itu memunculkan gambar sinetron kesukaan Mbah. Bergaris-garis dan menampakkan warna abu-abu.
Saat aku melihat TV, ada gambaran kesenangan yang sederhana. Meski tidak se HD tontonanku, meski tidak bisa memilih film yang aku suka, tapi Mbahku menganggap TV sebagai teman mengisi kekosongan rumah. Sebagai teman sepi saat orang rumah yang lain sedang sibuk dengan dunianya.
Senyumnya merekah, dan akupun juga tanpa sadar ikut tersenyum. Padahal, saat pulang kerja aku termasuk orang yang bakal sensi akut kalau dimintai tolong atau sekadar diajak ngobrol. Tapi malam itu, aku merasa berguna.
Saat aku mencoba masuk kamar untuk menuliskan perasaan ini. Aku dipanggil adikku yang pulang lebih awal tadi. Dia memang sangat semangat mengajakku quality time.
“Nying. Yuk lihat bintang, yuk!” Nong mengajakku.
Aku sebenarnya ragu. Tapi aku tetap mengiyakan. Dengan syarat “Kita hanya di luar doang ya, tidak ngobrol tidak papa?”
Entah kenapa. Aku selalu bisa menyampaikan apa yang aku rasakan kepada adikku ini. Tanpa ragu menjelaskan bahwa aku butuh ruang, dan aku butuh recharge energy.
Sepakat. Adikku mau dan kami rebahan berdua menatap langit. Mengobrol sedikit-sedikit, dan mendengarkan lagu yang kami sukai.
Dalam waktu sepulang bekerja yang rasanya melelahkan dan ingin tidak bertemu siapa-siapa, termasuk keluarga. Ternyata, aku terlalu egois menutup banyak kesempatan. Masih ada orang rumah yang ingin bertemu aku. Mereka seakan menunggu aku menjeda diri dari rutinitas profesional. Lalu kembali pulang ke rumah sebagai ‘kakak, cucu, dan majikan’.
Aku terlalu fokus pada forsir energi yang dikeluarkan untuk bekerja sampai lupa bahwa kehidupanku sebenarnya adalah rumah yang kuhuni, keluarga-keluarga yang menunggu dan selalu mengerti.
Mungkin benar, di saat kita diminta untuk terus seimbang. Dan menyadari hal itu sangat sulit. Aku merasa bahwa rasa tunggu yang mereka lakukan untuk aku, adalah harga mahal dari hangatnya rumah. Pulang bukan sekadar membuka pintu, tapi juga membuka diri untuk mereka.
Maka, saat aku kembali ke rumah… aku ingin jadi aku yang terus dicintai dan terus mencintai. Agar aku hidup, dan menghidupi hati mereka juga.
