“Pasti menyenangkan jadi tokoh utama dalam segala peristiwa, tapi itu terlalu melelahkan.”_
Kali ini, perkenankanlah aku menguak sisi gelap dalam perjalanan hidupku. Sedikit dramatis, tapi aku rasa ini hanyalah ironi dengan ragam yang hampir sama dengan banyak manusia. Rasa kurang yang selalu mewujudkan ingin jadi orang lain, rasa sedih yang selalu menginginkan kesempurnaan. Aku sedikit malu, tapi biarlah ini sebagai wujud aku menerima diriku. Paling tidak sebagai cara aku telah memilih jalanku.
Aku tahu ada beberapa hal dalam dunia ini yang tidak bisa aku raih dalam hidup. Koridor yang gerbang saja sudah tidak terbuka untukku. Koridor itu bernama ‘kecantikan’. Kecantikan yang berjenis eksposur dan paket keuntungan yang mengekorinya.
Meski aku tahu betul, kecantikan yang memesona tidak pernah selalu jelas kategorinya. Bahkan tidak ada kitab khusus yang menjelaskan bahwa untuk bisa menarik seseorang harus punya kecantikan; rambut panjang, mata yang teduh, lesung pipit atau sekedar kulit putih dan tubuh langsing. Namun melihat mata mereka yang tak berbohong pada pesona itu, membuat aku merasa kecantikan yang nyata adalah kategori itu dan membuahkan pikir 'bisakah aku membiusnya dengan hal seperti itu?'
Aku tak pernah meminta memiliki takdir menyedihkan. Lebih tepatnya tidak ingin dianggap menyedihkan. Kita semua tahu dan aku tahu betul bahwa semua orang punya problem. Tapi, dongeng-dongeng peri memesona membuatku tak bisa berpikir jernih. Kerap membuat nyaliku ciut untuk sekedar mencicipi asmara. Karena aku pikir, siapa aku yang biasa-biasa saja ini? Pangeran mana yang akan menjatuhkan hati pada perempuan tak memikat ini?
Kulitku tak licin, tinggi badanku standar, warna kulitku pun juga tak seputih testimoni produk kecantikan, serta aku punya banyak sekali kelebihan yang tak diinginkan, ya, berat badan. Sesungguhnya itu adalah tembok raksasa yang menamainya sebagai kurang dan rasa takut.
Ah, rasanya aku begitu kesal menyebutkan itu begitu jelas. Karena, pengakuan itu akan selalu berbuntut pernyataan defensif kalian soal ‘aku yang tak bisa menjaga diri dan tak ahli merawatnya’. Padahal, aku juga tahu ini bukan hal baik, mulanya aku selalu melakukan demo. Unjuk rasa pada diriku sendiri yang bahkan tak punya tangan untuk meraih dirinya menuju kriteria sempurna mereka. Tubuh yang langsing, tubuh yang mendukung masa remajaku yang sedang kembang. Tubuh yang mengabulkan cinta pada pandangan pertama. Baik laki-laki, maupun perempuan.
Kalian boleh menganggapku seseorang yang tak punya rasa syukur. Tapi percayalah, ketika ingin mencintai takdir namun ada yang kontra akan membuatnya sulit beradaptasi. Aku punya ingatan yang kuat, meski sudah berlalu sepuluh tahun silam. Kata-kata yang seperti jarum pentul itu menusuk-nusuk dadaku. Aku mengingat betul seorang guru mengatakan ini padaku, perempuan dan berjilbab yang kini sudah tak kuketahui kabarnya.
Guru yang seharusnya menjadi garda menuju masa depan yang indah. Masa depan yang dapat dituai janjinya dari upaya yang keras, doa yang memelas dan beberapa pinta tak terbatas. Namun, perkataan itu, membuatku merasa, dunia tak punya kesempatan untukku. Terlebih pada gadis gendut yang sejak kecil sudah mendamba langsing.
Katanya, “Kurangilah berat badanmu itu, sudah berlebihan… Makanmu banyak sekali pasti, berapa kali sehari? Kau hobby makanan manis, jangan minum es dan pokoknya kau akan tahu bahwa badanmu itu petaka. Suatu saat kau akan tahu bahwa seseorang laki-laki akan memilih perempuan yang langsing dan cantik.”
Kala itu juga, di samping meja guru… gadis yang usianya baru menginjak 12 tahun itu, hanya bisa merespon getir. Tak punya penolakan namun juga bukan berarti tak sakit hati. Betapa gelapnya masa depanku, betapa tak menyeramkannya fakta itu. Meski memang, di usiaku yang kini sudah mengingatkan dua puluh tiga tahun ini, ucapan beliau ada benarnya.
Tapi, terlalu berlebihan soal aku hidup sebagai seseorang yang menyeramkan dan hidup dalam petaka. Waktu berjalan menuju ke sini, di aku yang sekarang. Melewati masa remaja yang membuatku mengerti banyak hal juga. Pada kekarepan anak usia 12 tahun lalu soal ingin jadi orang yang dianggap ada, ternyata tak perlu repot-repot menjadi cantik.
Meski pada kenyataannya, beberapa kesempatan juga menyembulkan rasa iri; soal asmara, soal berlagak dan jadi peraga serta seseorang yang dengan mudah menentukan busana untuknya. Bahkan sederhana, ketika berjalan dengan temanku yang cantik, kerap kali seseorang tak melihatku. Entahlah, aku kadang sedikit kesal pada mata laki-laki yang tak memanusiakan perempuan seperti aku.
Tapi, tak apa. Lagi pula, semesta begitu luas. Mata-mata nakal mereka yang melengos dariku, termasuk syukur yang perlu aku haturkan. Berapa banyak kasus pelecehan yang diberitakan? Berapa banyak pula, hati perempuan cantik itu dikasih trauma atasnya? Betapa mereka yang cantik, juga perlu selektif menerima cintanya yang digugu wajahnya saja? Dan aku, sudah terbiasa dengan pelecehan tidak cantik. Tapi paling tidak, hanya sekedar itu, kan? Serta paling tidak untuk asmara, aku tak perlu repot-repot selektif karena mereka telah mengeliminasi diri mereka di awal pertemuan.
Mungkin kata-kata tersebut sedikit terkesan seperti tertawa di atas penderitaan? Menjelaskan lebih baik dan untung padahal seharusnya seorang perempuan juga harus saling memberi lindung. Paling tidak jangan menyakitinya. Ya aku tahu, aku perempuan dan aku juga harus mengerti tak boleh ada saling gores antar sesama kami—meski dulu, aku juga sedikit sakit hati pada perkataan mereka yang menganggap aku sebagai perempuan reject. Menganggap, aku harus menyamakan ragamku. Langsing dan cantik seutuhnya bersama mereka.
Ternyata, setelah berjalan cukup jauh meniti peristiwa. Menjalani segala hal yang membuatku tertawa, terkejut, tergugu dan sedikit menangis. Aku menemukan diriku sendiri. Aku menemukan bagaimana aku bisa hidup. Bagaimana aku bisa melanjutkan perjalanan yang indah versi diriku sendiri.
Aku mencari teman yang sejalan dengan kepalaku. Aku menjajali pengalaman yang beragam, aku mengenal banyak sekali orang. Aku mempelajari beberapa soal-soal yang tak terdikte dalam pelajaran, termasuk bagaimana menghargai diri sendiri. Dan aku juga menemukan apa yang kusukai, menulis. Aku juga kerap beberapa kali jatuh cinta, meski aku rasa romansa masa muda terlalu dini untuk dibawa ke jenjang serius.
Hidup adalah soal memilih, dan semua orang berhak menentukan pilihannya. Pilihan mungkin tidak selamanya menyenangkan. Karena memang terdapat beberapa yang ditentukan oleh keinginan hati, atau karena keterpaksaan kondisi. Pilihan yang pastinya akan memberitahu hasil akhirnya. Dan aku memilih, menjalani apa yang terjadi.
Aku sudah dewasa, dan aku tetap seperti ini. Tidak cantik dengan kategori seperti itu. Bukan berarti aku tak bisa menuju apa yang aku mau. Jika memang aku tak bisa jadi pemeran utama dalam segala sinema, bukan berarti aku tak boleh membuat cerita, kan?
Seperti pesan narasumber pra wisudaku di strata satu. Laki-laki yang dipanggil akrab Rici itu memelukku dengan kata-kata indahnya. Katanya, “Memang ada beberapa hal yang tak bisa kita masuki koridornya. Tapi bukan berarti kita tak punya jatah koridor. Bisa saja, jalan kita lebih sejahtera dan tentram.”
Mungkin akan iri juga tidak bisa menjajali seluruh koridor. Tapi memang, benar. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Seperti yang kubaca pada buku Berati Tidak Disukai milik Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, dalam buku itu terdapat pembicaraan antara filsuf dan pemuda yang ingin tercerahkan hidupnya.
Pemuda itu bertanya “Aku ingin bersinar, ceria dan disukai banyak orang, seperti Y. Tapi apakah aku bisa seperti dia? Meskipun aku seorang pendiam. Katamu, orang bisa berubah, jadi apakah aku bisa seperti Y?”
Jawaban filsuf membuatku sedikit terhenyak ,“langkah pertama dalam berubah adalah mengetahui.”
Ya, kita memang hidup dengan banyak ragam, banyak hal yang membuat kita terkadang ingin hidup seperti seseorang tertentu, iri ingin jadi bersinar dan tampak sempurna. Lalu kala mendengar statement bahwa seseorang bisa berubah, kita jadi berharap ingin jadi sepertinya. Namun kita kerap lupa bahwa perubahan tidak hanya sekedar menjadi, namun juga bagaimana mengetahui.
Lalu, apa yang ingin aku minta dalam hidup ini?
Kita tidak cantik, kita tidak ganteng. Tapi mereka bukan oksigen yang perlu kita butuhkan. Bisa saja, itu hanyalah pretensi dari visualisasi masyarakat yang sebenarnya, sama-sama minder dengan dirinya sendiri. Mereka mendamba yang sama namun tetap mencoba tampak menang. Padahal, di lubuk hati kita semua, kita adalah pecundang yang tak menemukan makna menang.
Menekuri fakta menyedihkan itu dan mencari validasi sempurna, hanya akan membuatku tak bisa berbahagia atas keadaan. Tidak bahagia bukan berarti tidak dapat jatah, tapi kita yang menganggap kebahagiaan itu tak ada.
‘Aku tak cantik, kata mereka’ ada benarnya. Nilai jualku bukan di sana. Tapi dari apa yang ada di kepalaku, yang ada di kedua tanganku dan mulutku yang bisa memberikan ketenangan lewat bait kata yang kupelajari. Aku memang tak akan pernah bisa jadi cantik. Dan aku tahu, bahwa biasa-biasa saja juga bukan sebuah dosa. Aku hanya perlu menikmati koridorku sebagai manusia biasa, manusia yang tak menumbuhkan suka pada mata laki-laki. Tapi bukan berarti aku tak bisa hidup bermartabat? Aku bisa, dan koridor itu masih bisa kujajal.
Soal cinta, hakikatnya, hidup tak hanya sekedar memikat. Memberikan labeling laku di mata lelaki. Mendapatkan predikat pacar dan disukai banyak kaum adam. Tapi soal aku bisa menerima diriku, mencintai semua yang ada di dalam diriku. Bagaimana aku masih bisa menjalankan aktivitas sebagai manusia. Lagipula, aku juga memiliki teman-teman yang baik. Teman yang punya intelektual yang aku akui keren, teman yang bisa memanusiakan aku selayaknya perempuan. Aku bukan tahanan yang tak diperbolehkan menjelaskan pikiranku dan segala aktivitasku tak dibatasi.
Aku tetap hidup dengan baik dan menjalani semuanya dengan perasaan riang dan antusias. Tidak punya dan tidak bisa menjajal koridor itu, tak apa. Hidup masih berjalan. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan lagi?
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar