Kamis, 14 Desember 2023

#Nulis 01: Mahasiswa Semester 7 Rajin Skripsian itu Kasih Semangat, Jangan Dikomen ‘Nanti Juga Males Lagi’


Pembahasan soal skripsi nggak akan pernah rampung selagi perguruan tinggi di Indonesia masih terus beroperasi. Saat ini skripsi masih menjadi syarat kelulusan bagi sebagian besar perguruan tinggi, meski di beberapa kampus lain sudah mulai mengadaptasi tugas akhir berupa proyek. Namun, eksistensi skripsi masih terus gemilang, walaupun namanya kerap jadi momok untuk mahasiswa, bagi yang belum menjajalnya pun pada yang sudah dibuat nangis-nangis menjalaninya.

Skripsi biasa dimulai ketika masa semester 6 berakhir, peralihan menuju semester 7.  Edarannya pun biasanya depan belakang dengan pembagian kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN). Waktu di mana mereka selalu antusias dengan identitas baru yang mereka miliki, ‘semester tua’  katanya. Hampir mirip dengan semangatnya mahasiswa baru, bedanya yang ini sudah merasakan asam garam perkuliahan.

Biasanya semangat dalam menyambut identitas mereka dibarengi dengan semangatnya menjanjal skripsi. Mulai rajin mengunjungi perpustakaan, bertanya soal tips-tips cari referensi yang valid pun bagaimana caranya bisa memenangkan hati dosen pembimbing skripsi. Pokoknya, mahasiswa semester 7 itu, merasa sudah menapak kehidupan dewasa di perkuliahan.

Sayangnya, semangat-semangat itu kadang dipadamkan oleh oknum tidak bertanggung jawab yang menganggap mereka berlebihan. Biasanya berasal dari kakak tingkat mereka yang sudah semester dua digit. Katanya, “Nggak usah terlalu semangat, nanti pas di tengah skripsian biasanya kamu bakal males, belum lagi dosen kamu siapa? Yakin bisa kelar?”

Ungkapan tersebut kerap kali langsung bikin nyali mahasiswa semester 7 ciut, sekaligus beringsut malas mundur perlahan. Padahal, apa salahnya semangat?

Daripada membuat mereka takut, lebih baik dampingi mereka dan kasih semangat biar skripsi mereka lancar. Minimal, jangan bikin penerus kalian semakin banyak.

Biarkan mereka mengunjungi perpustakaan tanpa sungkan

Langkah awal dalam proses skripsi adalah dengan membaca-baca referensi. Mahasiswa biasanya langsung mengunjungi perpustakaan untuk langkah mudah memberi makan kebutuhan literasi mereka. Tapi, niat tersebut tidak lepas dari cibiran orang-orang.

“Halah paling juga habis itu nggak datang lagi.”

“Itu cuma pencitraan, palingan juga nggak ngapa-ngapain.”

Meski beberapa dari mereka ada yang baru saja menapaki perpustakaan kala ini, jangan dikatain ikut-ikutan. Bersyukur kalau mereka sudah ada semangat untuk mengunjungi perpustakaan. Bahkan, kalau mereka memposting kunjungan ke media sosial jangan dicibir. Biar mereka semangat, toh kalau kesusahan mereka juga bakal ngerasain, kok.

Melihat perpustakaan kampus ramai diisi mahasiswa semester 7 ketika awal semester itu nggak buruk. Mereka datang untuk melihat-lihat referensi skripsi, kok. Kalaupun cuma datang dan lihat-lihat, siapa tahu mereka akan terilhami dan betah untuk datang kembali. Mereka kan juga datang dengan tertib, bukan untuk bikin berisik dan memperlihatkan identitas mereka sebagai anggota baru mahasiswa semester tua.

Jangan nakut-nakutin soal karakter dosen yang susah

Kejadian ini saya rasakan sendiri di awal semester 7. Kala itu saya senang lantaran dapat dosen yang saya idamkan. Eksistensi beliau memang kerap jadi alasan mengapa saya pengin dibimbing beliau. Namun, ketika saya curhat kepada kakak tingkat yang satu bimbingan dengan beliau, saya dibuat ciut dan mikir dua kali.

“Kamu jangan senang dulu, kalau kamu sama Bapak itu. Kelihatannya aja baik, aslinya enggak. Nggak percaya? Aku nih, buktinya.” kakak tingkat itu menceritakan pengalamannya.

“Aku udah bikin sampe proposal tapi ditolak disuruh ganti judul,” imbuhnya lagi yang membuat saya langsung takut. Satu bulan saya bertanya-tanya, apa benar kalau dosen pembimbing idaman saya punya karakter sejahat itu?

Tapi setelah saya bimbingan berkali-kali dan mengobrol lebih masif, apa yang disampaikan kakak tingkat tidak seratus persen benar. Dosen pembimbing saya cenderung perhatian dan memahami siklus naik turun mahasiswanya. Mungkin memang, bagi beberapa mahasiswa yang lebih suka santai menganggap dosen tersebut tampak memburu-burui tanpa memperhatikan kondisi mahasiswanya. Padahal, nggak juga.

Tidak ada dosen yang sempurna, pun juga mahasiswa. Saya menyadari bahwa terkadang dosen yang punya stigma ‘nggak enak’ itu enak-enak saja. Kecocokan mahasiswa dan dosen itu memang perlu adanya, jadi bukan berarti tidak cocok dengan anda, bukan berarti juga sama dengan orang lain.

Nggak ada yang salah dengan ngerjain skripsi cepat

Proses pengerjaan skripsi itu memang nggak bisa dikotakkan dengan standar satu waktu. Bebas. Asalkan terdapat alasan yang masuk akal mengapa skripsi memang harus rampung di waktu tersebut.

Orang yang lulus lama pun, juga bukan berarti ngerjainnya malas. Bisa saja, dia sedang membahas mega permasalahan yang perlu diselesaikan dengan jutaan partisipan. Juga kepada yang mengerjakan hanya beberapa bulan, bukan berarti skripsinya ambil data sekenanya. Nggak mungkin dong, mereka langsung nempel-nempel data dari Wikipedia atau media lainnya. Terselesaikannya skripsi itu butuh dua dukungan, eksternal dan internal.

Jadi kalau ada mahasiswa semester 7 sedang rajin mengerjakan skripsi, bisa saja memang sudah punya target dan ada mimpi yang perlu diraih. Jadi, jangan dianggap sok ambis bahkan dikata nggak sopan mendahului senior-seniornya.

Tanpa dikasih tahu, pun, kita semua tahu skripsi itu capek jadi dukung dan semangati itu perlu

Banyak sekali pembahasan kalau fase terberat kuliah itu berada di skripsi. Dinamikanya selalu bikin kita terkuras secara emosi, fisik, dan finansial. Pesan jangan terlalu antusias dengan skripsi kerap kali disampaikan kepada kakak tingkat yang sudah dibuat babak belur dengan skripsi, atau dengan kakak tingkat yang takut mencoba skripsi tapi sudah takut duluan.

Kita semua tahu, sebagai orang yang pernah berkecimpung dengan proses skripsi, niat kita baik untuk memberi tahu agar tidak kaget ketika sedang ada di situasi capek skripsi. Namun sayangnya, pemberitahuan itu kerap disampaikan tanpa solusi dan dengan cara yang salah.

Membuat proses burn out skripsi jadi makin buruk dan buntu. Karena hal tersebut biasanya banyak mahasiswa akhir yang enggan melanjutkan dan menemui dosen pembimbing lantaran sudah kedarung capek tanpa dukungan.

Kita ketahui, dukungan dalam hal sulit itu sangat berdampak bagi kebangkitan seseorang. Jangan sampai, apa yang kamu katakan membuat orang bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Hih, ngeri kan jadinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar