Jumat, 07 Juli 2023

Perspektif 5: Mantra untuk Gadis Tak Cantik




Aku memilih aku sendiri karena aku menyayangi aku.”

Sebenarnya dalam hidup ini, sadar tidak sadar manusia telah memilih sejak kecil. Mungkin akan terkesan seperti pilihan jelas soal baju apa yang akan kita pakai, sekolah mana yang akan kita tuju, makanan apa yang kita izinkan masuk perut dan pilihan yang tampak domestik saja. Tapi ada beberapa pilihan yang tanpa kita sadar, kita memilihnya; cara kita memandang dunia. 

Rasa bahagia, takut, senang, biasa saja itu adalah pilihan bawah sadar yang sebenarnya kita memilihnya, namun menganggap itu naluriah. Mari kita pikirkan, pada situasi yang berbeda namun hal yang sama itu akan jadi berbeda, karena kita memilih untuk merespon tersebut. Sama halnya dengan pengalaman dan memori yang telah kita lalui serta terima. Ketahuilah, momen yang mengesankan dan menakutkan, itu memang pilihan otak kita.

Dan aku memilih untuk mengingat kepingan kecil bernama rasa rendah diri di usia 12 tahunku dulu. Baiklah, mari merambah menuju ke depan, yang pastinya lebih baik dan lebih berarti. Hasil dari bagaimana aku memilih.

Hai, aku kembali dengan lebih segar. Dibandingkan dengan catatan kemarin soal rasa pesimistis yang ditunjukkan dari masa lalu—gadis usia 12 tahun yang takut tak punya masa depan. Sejujurnya, kini aku hidup lebih sejahtera. Jadi bagian manusia yang biasa-biasa saja dan mencintai dirinya apa adanya. Meski terkadang tidak sepenuhnya, tapi percayalah aku lebih senang menikmati hari-hariku bersama orang hangat dari pada terlibat dengan perasaan yang membuatku melarat.

Mungkin perjalanan tidak mudah, soal menerima diri, mencoba mengetahui maunya, memulai hal-hal baru dan mengisinya dengan yang lebih baik. Aku memerlukan waktu sejak usiaku 14 tahun, hingga kini aku berada di usia kembang-kembangnya. Dua tahun setelah aku terhubus oleh kata guru di sekolah dasarku. Semoga beliau, selalu diberi sehat dan baik menuju usianya yang merambah senja.

Aku memang tidak dilahirkan dengan sikap pendiam dan penuh santun. Gerakku tak terbatas, mulutku berceloteh tanpa tandas. Rasanya, aku selalu menginginkan seseorang dengan hangat menerimaku, membersamaiku dan melakukan hal-hal paling asyik di dunia ini denganku. Egois? Wajar saja, itu muncul di batok kepala gadis yang baru 13 tahun hidup. Percayalah, di seluruh dunia ini, orang-orang akan mengevaluasi dirinya habis-habisan untuk dapat diterima.

Belajar dari tidak diterima sebagai orang tidak cantik, aku mulai mencari cara diinginkan khalayak, paling tidak aku diperhitungkan kala diajak jajan ke kantin atau sekedar mampir beli pop ice kala selepas sekolah. Kalian tahu kan, pertemanan sekolah menengah memang selektif sekali!?

Jika tidak bisa menjadi cantik, aku ingin jadi yang menyenangkan. Dari pada hanya sekedar menyukai buku dan berimpulsif jadi penulis, aku harus bergaul. Kala itu, sedang ramai stand up comedy. Aku menjajalnya, dengan guyonan seadaku yang amatir, aku mencoba unjuk diri di perlombaan akhir semester, dan aku juara 3. Luar biasa. Ketahuilah seluruh masyarakat sekolah langsung mengenalku semua. Tiga angkatan siswa dan guru-guru—yang mengajarku juga yang tidak. Aku diterima dengan baik! Kata mereka, aku cerdas. Bagaimana rasanya? Tentu membanggakan.

Di antara perjalanan aku mencari diriku sendiri. Aku juga menemukannya dari orang lain. Seorang laki-laki berusia setengah abad, tidak tinggi dan terkenal kerèng (read: galak). Perkenalkanlah beliau bernama Bapak Rochamadi, seorang guru Matematika—ketahuilah, aku sedikit kesal juga dengan mata pelajaran itu, tak pernah sempurna nilainya—menyampaikan kalimat absurd yang tak masuk akal bagiku. Kalimat yang aku rasa hanya sekedar nasehat guru lalu, seperti kenangan di usia 12 tahun itu. Di siang bolong, kala jam bel sepulang sekolah ingin menunjukkan dentangnya.

Ndhuk, pernahkah kau melihat dirimu? Kamu punya sesuatu yang hebat dalam dirimu. Dan, sesuatu itu akan membawa kamu ke perjalanan yang hebat juga,” ucap beliau seperti seorang peramal.

Aku yang sedang guyon dengan teman sebangku, langsung menautkan alis namun tak mengurangi rasa sopan, “Mboten ah, Pak, Saya bukan ranking satu di kelas.”

“Ya, memang. Tapi bukan berarti ndak akan terjadi, kan?” Bapak itu menyenderkan badannya di mejaku. Jarak kami menjadi dekat—itu biasa dilakukan para guru kala ingin mengobrol dengan muridnya.

Beliau terkekeh, “Kalau saya lihat di antara teman-temanmu. Kamu yang paling unggul di sini. Kamu cerdas dan bisa meraih apa yang kamu inginkan.”

Aku yang kala itu selalu berorientasi ingin langsing, langsung mengaminkan. Siapa tahu kala aku jadi remaja seutuhnya, aku jadi pusat perhatian kan? Jadi banyak yang bakal mau temenan dan suka denganku? (Sungguh, aku sebenarnya malu mengakui ini pernah terbesit di kepalaku. Tapi itu wajar terjadi, aku hidup di antara para gadis yang sudah mengagungkan romansa, jadi primadona dan pusat semesta)

Sinau o sing tenanan ndhuk, usaha o sing teteg. Perkenalkanlah dirimu sebagai orang baik, orang yang pintar dan cerdas. Karena itu lebih baik jika hanya terkenal sekedar cantik saja. Tunggu beberapa tahun kemudian, nanti kamu bakal paham.”

Merinding. Segala bayangan klise masa depan langsung membuatku tak hentinya berdebar. Bagaimana rasanya aku di remaja nanti? Di masa SMA nanti? Bagaimana aku kala kuliah—ah, aku belum memutuskan untuk itu. 

Rasanya, ada suntikan besar yang membuat darahku berdesir dengan cepat. Ada pompa udara besar yang membuat ototku mengencang. Tapi aku tak tahu makna hebat yang dimantrakan Bapak itu. Masih terlalu abstrak untuk dipetakan. Tapi kini, ingin menangis kala mengingat itu.

Mantra. Itu mantra hebat yang diujarkan seorang guru. Doa-doa baik yang sekarang membawa aku jadi lebih baik. Kala itu, aku jadi rajin belajar. Aku yang tidak diperhitungkan mencoba membelokkan haluanku jadi pusat perhatian menjadi penikmat segala perjalanan. Aku mulai menuruti apa kebutuhanku. Akademikku  sepertinya juga perlu diupayakan. Berbekal dengan mantra dan tips belajar ala Alif Fikri di Negeri 5 Menara ‘man jadda wa jadda’, aku langsung melesat menuju peringkat tiga. 

Ya, PERINGKAT 3. Bagiku, yang dulu merasa jadi tiga besar adalah dongeng kini nyata adanya. Namaku diperhitungkan, dan bahkan aku mengalahkan si nomor satu. (Kala itu sedang ada perubahan besar, orang-orang yang rendah mendadak jadi yang terbesar).

Langsung saja sebelum euforia itu mereda, kutemui guru itu di akhir jam les. Usai mengejar kelas sebelah, kucegat beliau di depan kelas. Entah kenapa sejak mantra itu, aku mendadak jadi merasa akrab. Padahal beliau bukankah terkenal garang?

“Pak, saya dapat rangking 3.”

Beliau tersenyum, menepuk pundakku, “Lanjutno, tak tunggu rangking satumu.”

Waktu berjalan begitu apik. Kala aku memilih aku sendiri untuk bisa mencoba hal lain yang lebih baik. Aku mulai mengerti mengapa kecantikan itu sulit kugapai. Karna mereka fana, karena mereka hanyalah kemustahilan yang diada-adakan. Jadi, lalu apa yang perlu kukejar sekarang? Diri sendiri. Aku perlu mengejar diriku sendiri yang mulanya asing.

Merangkak menuju dewasa, aku tetap jadi orang yang menghibur dan menyenangkan, aku masih suka melucu meski sudah tidak pernah naik panggung sebagai komedian, aku tetap jadi orang yang senang bergaul dan berceloteh yang kadang juga membual. Aku tetap menyukai buku-bukuku, dan tak menutup pintu dengan pengalaman baru. Kuikuti ekstrakurikuler yang kusukai dengan sepenuh hati, dinikmati waktu ke waktu bersama orang-orang Baikku. Masa remajaku, cukup menyenangkan bersama mereka.

Aku tak cantik kala itu—sekarang pun tidak, tapi temanku membludak banyak. Kenalan di mana-mana, punya teman kemana-mana dan tak sedikit mereka mau berbagi rahasia denganku. Mereka bersedia mendiskusikannya dengan kepalaku yang masih labil itu. Tapi aku senang, dengan itu aku juga belajar banyak soal diriku sendiri.

Beranjak menuju bangku kuliah, seperempat dari abad. Aku sudah berkembang dengan baik. Sangat baik. Aku sudah tahu kemana aku berjalan, aku sudah paham apa yang ada di dalam diriku. Aku sudah tahu makna cantik untukku. Aku punya identitas juga; klepon, ehehe. Bercanda.

Aku mulai tidak tertarik disukai karena cantik. Karena beberapa kenalanku, hidupnya sedikit repot karena diburu—privasinya seperti diusik. Juga beberapa kesempatan lain, teman-temanku juga mengakui kekurangannya. Ada beberapa dalam diri mereka yang tak disukai, mereka juga punya rasa kurang atas diri mereka. Kupikir, dulu aku sendirian.

Jika aku tidak bisa menjadi cantik maka aku bisa jadi bersinar.. Meski tidak sempurna, aku bisa menyempurnakannya. Aku memang tidak punya beberapa hal yang tak dipunyai orang lain. Namun bukankah mereka juga tidak punya apa yang kupunya, kan? Seimbang, rata sesuai ketentuan SK Pencipta.

Penerimaan diri dan memilih memang terkesan sederhana. Tapi serius, ini cukup sulit jika tidak punya bekal yang baik. Lingkungan, support orang lain itu juga perlu. Maka jangan dijauhi ya, seseorang yang kurang itu. Namun kembali lagi, hati kita yang memilihnya. Bukankah kita nahkoda dari kapal besar bernama ‘diri sendiri’?

Jika saja, Bapak Rochamadi itu masih hidup, aku ingin sekali mencegat beliau di pintu kelas lagi. Ingin kupamerkan bagaimana aku beranjak dewasa. Ingin kujelaskan bahwa ucapannya tak ada yang melesat. Tepat dengan sempurna, dengan waktu yang tak pernah kuduga.

Akan kuceritakan bahwa aku telah meraih predikat terbaik bagi diriku sendiri dan orang lain—terbaik yang berlisensi. Aku ingin menyampaikan pada beliau bahwa aku adalah kehebatan yang tak pernah bisa kuintip sendiri. Dan beliau, adalah seorang cermin yang memberikan aku tahu soal aku, aku yang tak terlihat dan aku yang lebih hebat. Pasti responnya tak sekedar senyum tipis, pasti beliau lebih tersenyum lebar dan bungah. Sayangnya, hanya bisa kusampaikan lewat Al-Fatihah. Selamat bersenang-senang di surga, Pak.

Ternyata benar, hidup memang soal menemukan dan memilih. Banyak sekali gerbong pengalaman dan peristiwa yang lewat, tapi kita bisa memilih gerbong mana yang bisa kita gunakan untuk meluncur masa depan. Gerbong mana yang bisa membawa aku jadi seseorang yang merasa berguna dan memang berguna. Serta, gerbong mana atau pengalaman apa yang bisa kugunakan untuk meniti perjalananku.

Terima kasih, atas kesempatan hangat telah dilalui. Aku tidak akan memilih menjadi cantik, tapi aku akan memilih jadi hebat.


Terima kasih telah mampir membaca satu kepingan dari perempuan biasa saja. Terima kasih, semoga kalian juga selalu diberi sejahtera. Semoga juga telah dipertemukan dengan gerbongnya dan selalu punya mantra penguat. Sayangi diri kalian karena itu teman sejati yang tak pernah berpaling. Kalian hebat dengan versi kalian masing-masing.


Selasa, 04 Juli 2023

Perspektif 4: Kata Mereka, Aku Tak Cantik


“Pasti menyenangkan jadi tokoh utama dalam segala peristiwa, tapi itu terlalu melelahkan.”

_

Kali ini, perkenankanlah aku menguak sisi gelap dalam perjalanan hidupku. Sedikit dramatis, tapi aku rasa ini hanyalah ironi dengan ragam yang hampir sama dengan banyak manusia. Rasa kurang yang selalu mewujudkan ingin jadi orang lain, rasa sedih yang selalu menginginkan kesempurnaan. Aku sedikit malu, tapi biarlah ini sebagai wujud aku menerima diriku. Paling tidak sebagai cara aku telah memilih jalanku.

Aku tahu ada beberapa hal dalam dunia ini yang tidak bisa aku raih dalam hidup. Koridor yang gerbang saja sudah tidak terbuka untukku. Koridor itu bernama ‘kecantikan’. Kecantikan yang berjenis eksposur dan paket keuntungan yang mengekorinya.

Meski aku tahu betul, kecantikan yang memesona tidak pernah selalu jelas kategorinya. Bahkan tidak ada kitab khusus yang menjelaskan bahwa untuk bisa menarik seseorang harus punya kecantikan; rambut panjang, mata yang teduh, lesung pipit atau sekedar kulit putih dan tubuh langsing. Namun melihat mata mereka yang tak berbohong pada pesona itu, membuat aku merasa kecantikan yang nyata adalah kategori itu dan membuahkan pikir 'bisakah aku membiusnya dengan hal seperti itu?'

Aku tak pernah meminta memiliki takdir menyedihkan. Lebih tepatnya tidak ingin dianggap menyedihkan. Kita semua tahu dan aku tahu betul bahwa semua orang punya problem. Tapi, dongeng-dongeng peri memesona membuatku tak bisa berpikir jernih. Kerap membuat nyaliku ciut untuk sekedar mencicipi asmara. Karena aku pikir, siapa aku yang biasa-biasa saja ini? Pangeran mana yang akan menjatuhkan hati pada perempuan tak memikat ini?

Kulitku tak licin, tinggi badanku standar, warna kulitku pun juga tak seputih testimoni produk kecantikan, serta aku punya banyak sekali kelebihan yang tak diinginkan, ya, berat badan. Sesungguhnya itu adalah tembok raksasa yang menamainya sebagai kurang dan rasa takut.

Ah, rasanya aku begitu kesal menyebutkan itu begitu jelas. Karena, pengakuan itu akan selalu berbuntut pernyataan defensif kalian soal ‘aku yang tak bisa menjaga diri dan tak ahli merawatnya’. Padahal, aku juga tahu ini bukan hal baik, mulanya aku selalu melakukan demo. Unjuk rasa pada diriku sendiri yang bahkan tak punya tangan untuk meraih dirinya menuju kriteria sempurna mereka. Tubuh yang langsing, tubuh yang mendukung masa remajaku yang sedang kembang. Tubuh yang mengabulkan cinta pada pandangan pertama. Baik laki-laki, maupun perempuan.

Kalian boleh menganggapku seseorang yang tak punya rasa syukur. Tapi percayalah, ketika ingin mencintai takdir namun ada yang kontra akan membuatnya sulit beradaptasi. Aku punya ingatan yang kuat, meski sudah berlalu sepuluh tahun silam. Kata-kata yang seperti jarum pentul itu menusuk-nusuk dadaku. Aku mengingat betul seorang guru mengatakan ini padaku, perempuan dan berjilbab yang kini sudah tak kuketahui kabarnya.

Guru yang seharusnya menjadi garda menuju masa depan yang indah. Masa depan yang dapat dituai janjinya dari upaya yang keras, doa yang memelas dan beberapa pinta tak terbatas. Namun, perkataan itu, membuatku merasa, dunia tak punya kesempatan untukku. Terlebih pada gadis gendut yang sejak kecil sudah mendamba langsing.

Katanya, “Kurangilah berat badanmu itu, sudah berlebihan… Makanmu banyak sekali pasti, berapa kali sehari? Kau hobby makanan manis, jangan minum es dan pokoknya kau akan tahu bahwa badanmu itu petaka. Suatu saat kau akan tahu bahwa seseorang laki-laki akan memilih perempuan yang langsing dan cantik.”

Kala itu juga, di samping meja guru… gadis yang usianya baru menginjak 12 tahun itu, hanya bisa merespon getir. Tak punya penolakan namun juga bukan berarti tak sakit hati. Betapa gelapnya masa depanku, betapa tak menyeramkannya fakta itu. Meski memang, di usiaku yang kini sudah mengingatkan dua puluh tiga tahun ini, ucapan beliau ada benarnya.

Tapi, terlalu berlebihan soal aku hidup sebagai seseorang yang menyeramkan dan hidup dalam petaka. Waktu berjalan menuju ke sini, di aku yang sekarang. Melewati masa remaja yang membuatku mengerti banyak hal juga. Pada kekarepan anak usia 12 tahun lalu soal ingin jadi orang yang dianggap ada, ternyata tak perlu repot-repot menjadi cantik.

Meski pada kenyataannya, beberapa kesempatan juga menyembulkan rasa iri; soal asmara, soal berlagak dan jadi peraga serta seseorang yang dengan mudah menentukan busana untuknya. Bahkan sederhana, ketika berjalan dengan temanku yang cantik, kerap kali seseorang tak melihatku. Entahlah, aku kadang sedikit kesal pada mata laki-laki yang tak memanusiakan perempuan seperti aku.

Tapi, tak apa. Lagi pula, semesta begitu luas. Mata-mata nakal mereka yang melengos dariku, termasuk syukur yang perlu aku haturkan. Berapa banyak kasus pelecehan yang diberitakan? Berapa banyak pula, hati perempuan cantik itu dikasih trauma atasnya? Betapa mereka yang cantik, juga perlu selektif menerima cintanya yang digugu wajahnya saja? Dan aku, sudah terbiasa dengan pelecehan tidak cantik. Tapi paling tidak, hanya sekedar itu, kan? Serta paling tidak untuk asmara, aku tak perlu repot-repot selektif karena mereka telah mengeliminasi diri mereka di awal pertemuan.

Mungkin kata-kata tersebut sedikit terkesan seperti tertawa di atas penderitaan? Menjelaskan lebih baik dan untung padahal seharusnya seorang perempuan juga harus saling memberi lindung. Paling tidak jangan menyakitinya. Ya aku tahu, aku perempuan dan aku juga harus mengerti tak boleh ada saling gores antar sesama kami—meski dulu, aku juga sedikit sakit hati pada perkataan mereka yang menganggap aku sebagai perempuan reject. Menganggap, aku harus menyamakan ragamku. Langsing dan cantik seutuhnya bersama mereka.

Ternyata, setelah berjalan cukup jauh meniti peristiwa. Menjalani segala hal yang membuatku tertawa, terkejut, tergugu dan sedikit menangis. Aku menemukan diriku sendiri. Aku menemukan bagaimana aku bisa hidup. Bagaimana aku bisa melanjutkan perjalanan yang indah versi diriku sendiri.

Aku mencari teman yang sejalan dengan kepalaku. Aku menjajali pengalaman yang beragam, aku mengenal banyak sekali orang. Aku mempelajari beberapa soal-soal yang tak terdikte dalam pelajaran, termasuk bagaimana menghargai diri sendiri. Dan aku juga menemukan apa yang kusukai, menulis. Aku juga kerap beberapa kali jatuh cinta, meski aku rasa romansa masa muda terlalu dini untuk dibawa ke jenjang serius.

Hidup adalah soal memilih, dan semua orang berhak menentukan pilihannya. Pilihan mungkin tidak selamanya menyenangkan. Karena memang terdapat beberapa yang ditentukan oleh keinginan hati, atau karena keterpaksaan kondisi. Pilihan yang pastinya akan memberitahu hasil akhirnya. Dan aku memilih, menjalani apa yang terjadi.

Aku sudah dewasa, dan aku tetap seperti ini. Tidak cantik dengan kategori seperti itu. Bukan berarti aku tak bisa menuju apa yang aku mau. Jika memang aku tak bisa jadi pemeran utama dalam segala sinema, bukan berarti aku tak boleh membuat cerita, kan?

Seperti pesan narasumber pra wisudaku di strata satu. Laki-laki yang dipanggil akrab Rici itu memelukku dengan kata-kata indahnya. Katanya, “Memang ada beberapa hal yang tak bisa kita masuki koridornya. Tapi bukan berarti kita tak punya jatah koridor. Bisa saja, jalan kita lebih sejahtera dan tentram.”

Mungkin akan iri juga tidak bisa menjajali seluruh koridor. Tapi memang, benar. Ada beberapa hal yang memang harus diterima. Seperti yang kubaca pada buku Berati Tidak Disukai milik Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga, dalam buku itu terdapat pembicaraan antara filsuf dan pemuda yang ingin tercerahkan hidupnya.

Pemuda itu bertanya “Aku ingin bersinar, ceria dan disukai banyak orang, seperti Y. Tapi apakah aku bisa seperti dia? Meskipun aku seorang pendiam. Katamu, orang bisa berubah, jadi apakah aku bisa seperti Y?

Jawaban filsuf membuatku sedikit terhenyak ,“langkah pertama dalam berubah adalah mengetahui.

Ya, kita memang hidup dengan banyak ragam, banyak hal yang membuat kita terkadang ingin hidup seperti seseorang tertentu, iri ingin jadi bersinar dan tampak sempurna. Lalu kala mendengar statement bahwa seseorang bisa berubah, kita jadi berharap ingin jadi sepertinya. Namun kita kerap lupa bahwa perubahan tidak hanya sekedar menjadi, namun juga bagaimana mengetahui.  

Lalu, apa yang ingin aku minta dalam hidup ini? 

Kita tidak cantik, kita tidak ganteng. Tapi mereka bukan oksigen yang perlu kita butuhkan. Bisa saja, itu hanyalah pretensi dari visualisasi masyarakat yang sebenarnya, sama-sama minder dengan dirinya sendiri. Mereka mendamba yang sama namun tetap mencoba tampak menang. Padahal, di lubuk hati kita semua, kita adalah pecundang yang tak menemukan makna menang.

Menekuri fakta menyedihkan itu dan mencari validasi sempurna, hanya akan membuatku tak bisa berbahagia atas keadaan. Tidak bahagia bukan berarti tidak dapat jatah, tapi kita yang menganggap kebahagiaan itu tak ada. 

‘Aku tak cantik, kata mereka’ ada benarnya. Nilai jualku bukan di sana. Tapi dari apa yang ada di kepalaku, yang ada di kedua tanganku dan mulutku yang bisa memberikan ketenangan lewat bait kata yang kupelajari. Aku memang tak akan pernah bisa jadi cantik. Dan aku tahu, bahwa biasa-biasa saja juga bukan sebuah dosa.  Aku hanya perlu menikmati koridorku sebagai manusia biasa, manusia yang tak menumbuhkan suka pada mata laki-laki. Tapi bukan berarti aku tak bisa hidup bermartabat? Aku bisa, dan koridor itu masih bisa kujajal.

Soal cinta, hakikatnya, hidup tak hanya sekedar memikat. Memberikan labeling laku di mata lelaki. Mendapatkan predikat pacar dan disukai banyak kaum adam. Tapi soal aku bisa menerima diriku, mencintai semua yang ada di dalam diriku. Bagaimana aku masih bisa menjalankan aktivitas sebagai manusia. Lagipula, aku juga memiliki teman-teman yang baik. Teman yang punya intelektual yang aku akui keren, teman yang bisa memanusiakan aku selayaknya perempuan. Aku bukan tahanan yang tak diperbolehkan menjelaskan pikiranku dan segala aktivitasku tak dibatasi.

Aku tetap hidup dengan baik dan menjalani semuanya dengan perasaan riang dan antusias. Tidak punya dan tidak bisa menjajal koridor itu, tak apa. Hidup masih berjalan. Jadi, apa yang perlu dikhawatirkan lagi?