Selasa, 17 Oktober 2023

#Soalku Satu; Tangisan Tanpa Alasan



Sebagai manusia yang sudah hidup cukup lama dengan badan yang sama sepanjang masa, bukan jaminan aku mengenalnya sempurna. Ada beberapa komponen yang masih begitu asing, sesuka hati dan seenaknya sendiri. Susah kukendali, bahkan susah kuajak berkorespondensi. Bagiku, komponen itu selalu mau menuruti maunya, dan kesalnya bertamunya selalu tanpa janji dulu. Perasaan itu kuberi nama, tangisan tanpa alasan. Ya, dia hanya meminta aku untuk menangis, yang sebelumnya harus diorientasikan dengan marah dan kesal, kalau perlu menyembur semua orang yang ada di sekitarku.

Bagiku, prosesi upacara 'Tangisan tanpa alasan' ini seperti tidak punya adat. Tak diajari etika dan seperti hidup di zaman purba. Pelajaran kode etik dan sopan santun yang kupelajari sejak taman kanak-kanak ini selalu tak manjur baginya. Seperti kataku di awal, dia seenaknya. Merebut kendali tubuhku untuk jadi seseorang yang ingin dimengerti oleh semesta. Kataku; pokoknya ketika aku sedang ditamu oleh tangisan tanpa alasan ini, aku berubah jadi monster tak beretika. Semuanya harus bisa maklum, semuanya harus paham maksud yang ingin digaung.

Biasanya, itu kurasakan ketika sebelum bertemu mentruasi. Perasaan bernama hormon itu, seakan jadi mitra baik tangisan tanpa alasan itu. Mereka berperan hebat, melakonkan hati dan pikiranku untuk membenci hal-hal sepele. Bahkan, hanya sekedar kipas yang menyemburkan banyak angin, membuatku kesal. Sampah yang tak mau masuk kotak sampah pun, jadi kena semprotku.

Upacara itu, sudah mulai kuadaptasi. Tapi tak sepenuhnya bisa kuatasi, karena kembali lagi, mereka adalah perasaan tak beradat. Mereka tak mengenal urusan rumit yang bikin kepala penuh. Mereka tak peduli apa-apa yang lebih serius di dunia. Mereka hanya datang, meminta waktu untuk menggelontorkan tangis hebat. Mungkin, satu jam, atau paling sebentar tiga puluh menit.

Tangisan tanpa alasan ini juga aneh, tapi mandiri. Mereka tak memerlukan lagu sedih, mereka tak butuh film yang tragis. Mereka hanya butuh menangis saja, tanpa alasan. Makanya, kuberi nama mereka Tangisan Tanpa Alasan. Mereka bahkan bisa datang saat aku baru saja bercanda dengan saudara, sahabat atau menyapa orang di jalan. Mereka bahkan bisa membuatku yang awalnya menikmati makanan, mendadak dibuat lauk tambahan dengan nama air mata.

Tangisan tanpa alasan itu memang kerap menyapa. Dan aku sudah mulai tahu siklusnya, dia akan menumpahkan gelondongan berat di dadaku. Kemudian, setelah rampung dengan ritualnya membanjiri pipi, mereka akan membuat tenggorokanku kering, perutku lapar. Kemudian, aku makan saja, aku minum saja. Oiya, mereka juga selalu membuat tisu kamarku cepat habis. Hidungku juga mampat dengan berat, belum lagi suka bikin kepalaku pusing.

Tapi tak apa, tangisan tanpa alasan itu kerap meredakan dadaku. Membuatku lebih bisa menikmati hal sederhana dalam diriku. Mengundang kantuk lebih cepat dan yang pasti, keesokan harinya aku lebih bahagia, perasaanku juga lebih reda. Tapi, tak kadang juga, bonus tinta merah memang kerap juga menyapa.

'Hi,' katanya. 'Aku siap membuatmu menderita dengan keram di perut cukup lama, maka jangan banyak menangis lagi.'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar