Jumat, 03 Februari 2023

Perspektif 2: Kalau Menikah itu Kayak Piknik



“Jika hidup semudah saling jatuh cinta, maka aku ingin menikah besok.”


‘Lembaga pemerintahan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya untuk menjadikan negara ini lebih baik, dengan melakukan rekomendasi untuk pernikahan dilakukan pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan, sedangkan laki-laki minimal 25 tahun.’ Kata media databook.com di salah satu artikelnya. 

Data yang diterbitkan pada Desember lalu jelas saja menjadi penegasan bahwa usia dalam perkawinan memang perlu ditetapkan. Hal itu berguna untuk mengurangi nikah muda yang menjadikan angka perceraian di Indonesia melonjak tajam. Kebanyakan disebabkan karena pertengkaran yang menjadi jawaban pada the ending dari rumah tangga yang diharapkan bahagia itu. Percaya atau tidak, usia seseorang jelas mempengaruhi psikologinya.

Aku tahu betul berita mengenaskan itu, berita yang tak pernah basi pembahasannya karena selalu diperbarui oleh kasus-kasus barunya. Setiap saat dan setiap hari, akan selalu ada seseorang mengunjungi kantor pengadilan agama untuk mengurus rumah tangganya yang carut-marut. Tak peduli ia artis berkendara mewah,seseorang keluarga yang berpenghasilan di industri pabrik atau yang berpengangguran pun, tak pernah lepas dari perceraian. Perceraian seakan menjadi takdir yang diantrikan oleh pasangan yang memimpikan pernikahan muda dan bahagia–sayangnya, mimpi itu harus dibenamkan dalam-dalam karena dunia itu realistis. Padahal sebenarnya, perceraian tak harus terjadi. Dengan berbagai upaya, mungkin salah satu upaya dari pemerintah adalah dengan meninggikan angka minimum calon pengantin.

Bergeser dari realitas yang miris ini, hidupku juga tersenggol dari hal-hal tersebut. Bukan karena angka perceraiannya, tapi ya namanya soal kehidupan. Pernikahan adalah sebuah topik pembicaraan paling anget untuk orang seusiaku. Waktunya menikah, kata mereka.

Pemerintah sudah memberikan pemberitahuan dengan jelas bahwa minimal usia menikah. Kemudian hal itu juga sudah dilakukan sosialisasi besar-besaran dengan membuat iklan layanan masyarakat untuk menjadi edukasi bersama bahwa memang usia paling ideal menikah adalah dengan kedua angka tersebut. Tapi, sepertinya pemahaman orang-orang di sekitarku–tepatnya tempat aku tinggal–menganggap kata ‘minimal 21 tahun’ diubahnya menjadi ‘maksimal’. Berubah drastis. Perubahan kata itulah yang menjadikan aku, seperti perawan tua bagi mereka.

Padahal sebenarnya, usia di bawah 20 tahun adalah fase sederhana tapi kompleks bagi remaja. Ia baru saja melalui fase memikirkan dirinya sendiri dan jati dirinya, malah harus dihadapkan untuk hidup berdampingan dengan seseorang. Ya, kembali lagi pasti akan ada sangkalan beberapa orang bahwa ‘nggak semua orang kan begitu, bisa aja dia sudah dewasa, dan bla-bla-bla’. Silahkan berkomentar, tapi untukku, aku yang paling tahu usia idealku sendiri.

Usiaku sudah 22 tahun, ini sudah merangkak berubah tahun yang artinya sebentar lagi aku akan berubah menjadi 23 tahun. Dua tahun lebih tua dari kata minimal tersebut. Dan bagi mereka itu sudah menjadi masalah. Cukup bermasalah. Sebenarnya itu menjadi alasan aku malas pulang ke rumah. Pasalnya tak ada yang kubanggakan di tanggal kapan aku menikah, jangankan itu, menggandeng siapa nanti itu masih rahasia ilahi.

Kukira pertanyaan kapan menikah itu hanyalah pertanyaan sederhana. Pertanyaan yang dulu kuanggap dilebih-lebihkan kawula muda kala melakukan pertemuan keluarga. Ternyata, memang menyebalkan. Seakan, menikah adalah sebuah perlombaan yang apabila menang, kamu bakal dapat satu unit rumah. Kalau memang ada, aku akan menikahi siapapun, yang penting dapat rumah.

Tapi guys, menikah bukan soal when i fall in love with him, i wanna marry him. Tidak semudah itu. Meski memang benar, salah satu landasan dalam pernikahan memang saling mencintai. Serta tak sedikit juga yang melakukan perceraian karena salah satu tidak cinta–lagi. Tapi urusan pernikahan tidak semudah itu, tidak seklise itu. Menikah adalah urusan lain dari pada dua manusia yang memadu kasih. Soal pernikahan, lebih rumit dari pada daftar S2!

Aku memang belum pernah menikah, tapi aku tahu resiko yang akan aku dapat dari menikah. Lebih tepatnya, apa yang akan aku terima dan dapatkan nantinya setelah statusku resmi menjadi istri. Aku paham betul makna bibit-bebet-bobot itu perlu. Sudah tidak pandang bagaimana rupawannya, bagaimana ia cintanya. Semua perlu dipertimbangkan termasuk bagaimana nanti aku berkomunikasi sama calon suamiku. Siapa tahu, aku nanti dapat suami orang Korea, apa nggak merepotkan kalau aku nggak bisa bahasa Korea–tapi, kalau aku nggak bisa bagaimana kami bisa mengenal?

Ah, lagi. Pernikahan memang harus dipertimbangkan dengan banyak hal. Bagaimana kalau suatu saat aku tidak bisa memahaminya, atau aku yang syok dengan cara dia bangun tidur, bagaimana kalau dia melakukan hal menyebalkan seperti ditanya mau makan apa dia bingung dan bagaimana kalau aku suka marah-marah kalau dia menaruh handuk sembarangan di kasur. Bukannya aku memikirkan hal-hal buruk, tapi lebih ke apakah aku siap dengan hal seperti itu tanpa merasa emosi.

Pernikahan bekalnya memang tidak hanya cinta dan finansial. Aku bakal berjumpa dengan orang baru yang karakternya bakal diluar dugaan kita. Berbeda dengan orang tua yang sudah mengenalku, seseorang baru ini tugasnya akan lebih kompleks. Ia jadi nahkoda, namun juga sebaya denganku. Keegoisan diri dalam mandiri perlu dikurangi, karena kembali lagi, sebagai perempuan memang harus siap jadi makmum bagi suaminya. 

Belum lagi, kalau ternyata suamiku orang yang saklek, akan seperti apa obrolan itu jika ternyata aku juga saklek. Apa nggak berakhir lempar-lemparan kompor tuh? Kan nggak seru kalau barang yang baru dibeli satu bulan lalu hancur karena komunikasinya yang tidak dibangun dengan baik. Karena menikah itu, soal bagaimana kita bisa kongsi dengan baik, bersama seseorang yang baru itu.

Menanggapi hal-hal tersebut, maka banyak orang akan menjawab dengan percaya diri. Itulah fungsinya mengenal, biar kita bisa memilih pasangan. Biar kita bisa menentukan seperti apa pasangan kita. Kalau sikap dia jahat dan patriarki, ya sudah tinggalkan. Jawaban itu memang masuk akal, tapi kembali lagi orang itu berubah. Iya, kalau pas awal kenal manis, gentle dan bisa menjadikan kita terkagum-kagum. Terus ketika sudah menikah sama kita, sikap aslinya keluar. Sikap keras kepalanya dan beberapa hal yang ternyata tidak sevisi sama kita. Apa nggak repot?

Semua itu memang nggak bisa kita pilih orangnya, tapi kita bisa mengurangi kekagetan itu dengan menyiapkan diri. Karena sebenarnya soal mempersiapkan pernikahan, bukan dengan siapa kamu bersanding, tapi bagaimana kamu siap disanding. Perasaan dan sikap orang bisa berubah, karena memang kita nggak boleh percaya 100 persen. Tapi bagaimana respon kamu dan perasaan kamu, kembali lagi menjadi urusan kamu. Berusahalah untuk tetap dewasa dalam menanggapi permasalahan. Jika suatu saat suamimu keras kepala, kamu bisa menjadi air yang menyejukkannya. Kemudian apabila ternyata kamu bimbang dalam menentukan jawaban, suamimu yang realistis itu dapat menjawabnya dengan logis. Dua keseimbangan itu bisa tercipta dari orang yang siap.

Belajar dalam mempersiapkan pernikahan memang perlu dipersiapkan dengan serius. Ia perlu memahami segala lini problema; segi psikologis, segi agama, segi budaya,  segi ekonomi, segi manajemen, segi sosial dan segi kesehatan. Sudah seperti dunia pendidikan deh yang memahami ilmu disiplin apapun–tapi memang itu tidak mudah, serius. Perbedaan dari pasanganmu akan menjadi buku baru yang harus siap kamu pelajari. Karena ketika kamu mencoba memahami seseorang, kamu juga akan belajar memahami dirimu sendiri. Persiapkanlah dirimu dalam piknik paling panjang itu, jangan mabuk jangan pula pusing. Jadinya kita nggak enjoy sama perjalanannya.

Menikah itu soal yang bukan sebentar, menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Gimana mau betah ibadah sepanjang hidup kalau kamu ibadah wajib aja suka buru-buru dan suka menyepelekannya. Persiapkan itu dengan maksimal, paling tidak jangan sampai merugikan siapapun–termasuk kepercayaan yang sudah kamu bangun bersama nahkodamu itu.

Kepada siapapun orang terdekatku, yang meminta aku ingin menikah cepat, terima kasih. Aku tahu niat kalian baik ingin aku merasakan kebahagiaan sebagai seorang istri. Tapi ini bukan soal bersenang-senang saja, ada perjalanannya yang hanya aku dan suamiku yang menjalaninya. Semua itu perlu persiapan, dan sekiranya aku meminta kalian untuk membantu itu. Kemudian soal waktunya, akan ada masanya ketika Tuhan sudah bersedia menyerahkan kepercayaan itu padaku. Doakan saja yang terbaik.


 

Perspektif 1 : Bangga dan Sombong


"Kita memiliki hak penuh dalam kendali perasaan kita, maka kendalikan semuanya dengan baik."

– 


    Kata orang sombong dan bangga itu beda tipis, sama-sama pamer keunggulan diri. Tapi, ia bisa terlihat berbeda dari bagaimana orang memandangnya. Ya, bagi orang yang iri atau nggak suka, kebanggaan adalah suatu hal yang bersifat pamer, dan ingin mendapatkan pembuktian serta pengakuan. Beda lagi dengan orang yang memang dari sananya sudah ber-positif thinking, mau sepamer apapun orang, baginya itu hanyalah suatu penghargaan diri dari upaya-upaya yang dilakukan–entah upaya sederhana atau upaya yang luar biasa. Kalau kata gaul sekarang, namanya struggle

Sebenarnya dari dua kata tersebut memiliki perbedaan yang cukup kok, coba deh cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata bangga dan sombong itu jelas beda. Bangga di sini memiliki arti berbesar hati atau merasa gagah karena mempunyai keunggulan. Sedangkan sombong artinya menghargai diri secara berlebihan, meninggikan diri, congkak, dan pongah. Sudah paham bedanya kan? Singkatnya kedua hal tersebut membahas tentang merasa percaya diri terhadap keunggulan. Bedanya di sini, sombong tuh lebih boros dalam perlakuannya. Padahal jelas ya di dalam Alquran tuh kalau kita nggak boleh berlebihan dalam hal apapun, termasuk bangga.

Berkaitan dengan hal tersebut, sebenarnya aku juga hampir berada di fase sombong. Bukannya mau berbangga diri nih dengan sikap jelek tersebut, tapi memang dasarnya manusia tuh paling doyan bener digoda sama setan. Kalau setan jadi manusia, sudah saya laporkan tuh ke kantor polisi atau nggak dinas perlindungan anak dan perempuan. Soalnya, tindakan godaannya tuh udah melebihi taraf catcalling

But, balik lagi. Sebagai orang yang disekolahkan keluarga tinggi-tinggi, nggak bolehlah saya berperilaku bodoh dengan menolak keadilan bahwa tugas setan memang menggoda aku dan kalian-kalian semua. Jadi, soal sikap sombong ini hampir saja bertamu di hati saya.

Bulan Januari tahun ini, awal tahun yang sudah mendapatkan perhatian luar biasa. Bagaimana tidak, aku dinyatakan sebagai mahasiswa dengan lulusan tercepat tahun ini. Sebenarnya, teman-temanku  banyak tapi yang menjadikan eksposure lebih banyak ke arahku adalah bagaimana kondisiku. Menjadi ketua organisasi di sebuah kampus memang hal yang sederhana dan remeh. Tapi menjadi ketua organisasi dan bisa survive dengan perkuliahan dan  lulus cepat adalah melawan takdir. Yas, aku melawan stereotip sebagai aktivis yang digadang-gadang akan selalu betah menjadi manusia hingga lulus dengan semester dua digit.

Rasanya gimana? Menyenangkan. Tapi berat nggak? Guys, apa sih yang nggak dilakukan dengan perjuangan, nggak ada. Bahkan dalam hal tidur pun, akan selalu ada usaha untuk bisa ngantuk dan mendapatkan ketenangan sebelum terlelap. Tapi di sini beda ya. Berat yang kumaksud memang dengan menjadi ketua bukan berarti aku dapat korting bab skripsi. No, aku tetap mengerjakan dari pengajuan judul sampai acc skripsi, lima bab! Nggak kurang nggak lebih.

Tapi aku bangga nggak sih? Jelas lah. Rasa bangga itu timbul dari susah payahnya aku menjaga waktu, menjaga diri dan menjaga mood. Dulu kala mengerjakan skripsi, aku harus membagi waktu antara jadi pembantu kampus dan organisasi, malamnya aku fokus dengan diriku sendiri. Tak kubiarkan aku membuka aplikasi pemuas rasa malas seperti TikTok, Instagram bahkan story whatsapp. Bagiku, menyicil lebih baik dari pada harus mengejar target. Menjadi ketua memang melatihku untuk bisa memanajemen itu dengan baik. Aku bisa lho, senyum di hadapan orang yang nggak aku sukai. Aku juga bisa, datang ke lima acara dalam satu hari–asal dia tidak dilaksanakan di satu waktu, aku juga bisa menghandle kegiatan dan merasa bisa, meski aku juga kadang nangis, its okey kataku.

Awalnya aku merasa bahwa upayaku memang perlu diapresiasi, bahkan bagiku sendiri. Tapi, apresiasi dari orang-oranglah yang menjadikan aku sedikit limbung. Katanya, tak ada yang benar-benar bisa melakukan hal sehebat aku, tak ada yang bisa mengalahkan aku. Tak sedikit juga mengatakan diriku bukan manusia, bahkan sampai dielu-elu dewa. Edan. Kembali lagi, panggungku memang belum diganti dan aku menoreh prestasi.

Aku digadang-gadang orang produktif, katanya apa sih yang nggak aku bisa. Ada! Aku punya sesuatu yang tidak bisa aku jaga, yaitu perasaanku. Perasaan yang masih suka seperti anak kecil, suka sekali terombang-ambing dengan iming-iming rasa nyaman, perasaan yang masih suka sekali berkongsi dengan setan. Padahal tadi di awal kan sudah jelas aku katakan, setan itu nakal. Aku dibuat sombong dengan itu.

Star syndrome menggerayangi seluruh pori-pori tubuhku, masuk ke bagian paling inti dan penting–hatiku. Perasaan terekspos yang bahkan seluruh dosen di fakultas itu seperti kagum dengan perjuangan yang aku lakukan–revisi, nggak seluruhnya, tapi mayoritas. Aku seakan punya masa depan yang bertajuk gemilang. Diterima kerja di manapun, atau bolehlah kalau aku ingin, aku bisa mendaftar di pascasarjana kampus manapun. Meski sebenarnya aku tidak tahu semampu apa aku menghadapinya nanti. Tapi diadem-ademkan seperti itu perasaannya, menjadikan aku tak waspada.

Perjalanan memang berat, tapi rasa bangga berlebihan itu menjadikan aku lupa akan adaptasi. Dunia nggak muter ke kamu aja bro, kataku sekarang pada aku kemarin. Tapi kala kemudian, saat aku sudah menyadari ini berlebihan. Aku tak boleh tenang diri. Aku tidak boleh untuk tetap merasa semua mata akan mengarah kepadaku. Ketidakberesan ini tidak boleh diberi makan terus. Sampai kemudian aku pulang ke rumah.

Masku, orang paling jahil itu menanyakanku. “habis kuliah mau kemana? kerja di sini saja.” 

Aku langsung menyahut, “kalau S2 gimana?”

Responnya masam,tak setuju adiknya melangkah lebih tinggi. Bukan karena ia tersaingi, ia memang tidak kuliah tapi baginya sekarang mencari uang adalah hal yang perlu dipikirkan dan diprioritaskan. Pemikirannya itulah yang perlu dibenamkan juga di kepalaku. Apalah makna belajar, baginya sarjana sudah cukup membanggakan, tak perlu mencari tambahan gelar lagi. Bukankah namaku sudah cukup panjang dengan gelar S.Sos di belakangnya?

“Kapan kamu membalas hutang Ibu.” ucapnya dengan halus, selembut mungkin agar ibu yang tidur di ruang tengah tak mendengarnya. Pukul tujuh kala itu, tapi adzan isya’ belum terdengar di pengeras suara masjid depan.

Aku kini yang berwajah masam, tak sukalah aku diungkit-ungkit soal penghabis keuangan keluarga. Tapi kenyataannya memang begitu. Aku yang satu-satunya kuliah di sini–tapi memang aku juga bekerja kok, tapi ya gitu penghasilanku tidak lebih banyak dari pada lainnya. Aku masam karena memang kenyataan itu jahat.

Kebanggaan berlebihanku selalu ditampar keluargaku, aku memang membanggakan. Dapat kuliah dengan baik, namun mereka tidak pernah memahami soal jumlah waktu yang kukerahkan. Mereka tidak paham makna tiga setengah tahun, yang mereka tahu. Aku jarang pulang.

Nama yang sudah tinggi dan aku banggai itu, tak pernah selalu sama digotong dimanapun. Sekali lagi, aku sadar sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Aku memang membanggakan, mendapatkan banyak hal yang belum bisa orang lain dapatkan. Namun, untuk tetap membanggakan  itu di depan orang yang tidak mengerti hanya menjadi sebuah hal yang bertajuk ‘sombong’. 

Setelah percakapan itu, kepercayaan diriku terhadap S2 mulai mereda. Bukan karena orang tua, tapi karena diriku sendiri. Sebenarnya apa yang kukejar? Apa yang ingin aku dapatkan dari pendidikan tingkat lanjut itu? Apa aku memang senang belajar, atau aku yang memberi makan saran-saran orang? Niatnya apa?

Kemudian, ketika aku mendapatkan S2, apa yang terjadi dengan keluargaku?

Aku, akan lebih baik lagi. Aku akan bisa menjaga perasaanku dengan baik. Ya, memang hidup seperti ini. Tak ada yang namanya pusat, bahkan di dunia ini ada dua kutub, ada banyak sekali galaksi di angkasa ini dan tak selamanya kamu yang bersinar.

Perspektif soal bangga, memang akan berubah menjadi sombong di mataku, kala aku terkecoh dengan keberhargaan diriku yang berlebihan. Padahal kembali lagi? Sebenarnya aku kemarin bisa karena diriku sendiri atau karena beruntung? Atau yang paling mengetirkan adalah, apakah aku bisa karena memang itu privillage dari ketua organisasi?