“Jika hidup semudah saling jatuh cinta, maka aku ingin menikah besok.”
—
‘Lembaga pemerintahan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berupaya untuk menjadikan negara ini lebih baik, dengan melakukan rekomendasi untuk pernikahan dilakukan pada usia minimal 21 tahun untuk perempuan, sedangkan laki-laki minimal 25 tahun.’ Kata media databook.com di salah satu artikelnya.
Data yang diterbitkan pada Desember lalu jelas saja menjadi penegasan bahwa usia dalam perkawinan memang perlu ditetapkan. Hal itu berguna untuk mengurangi nikah muda yang menjadikan angka perceraian di Indonesia melonjak tajam. Kebanyakan disebabkan karena pertengkaran yang menjadi jawaban pada the ending dari rumah tangga yang diharapkan bahagia itu. Percaya atau tidak, usia seseorang jelas mempengaruhi psikologinya.
Aku tahu betul berita mengenaskan itu, berita yang tak pernah basi pembahasannya karena selalu diperbarui oleh kasus-kasus barunya. Setiap saat dan setiap hari, akan selalu ada seseorang mengunjungi kantor pengadilan agama untuk mengurus rumah tangganya yang carut-marut. Tak peduli ia artis berkendara mewah,seseorang keluarga yang berpenghasilan di industri pabrik atau yang berpengangguran pun, tak pernah lepas dari perceraian. Perceraian seakan menjadi takdir yang diantrikan oleh pasangan yang memimpikan pernikahan muda dan bahagia–sayangnya, mimpi itu harus dibenamkan dalam-dalam karena dunia itu realistis. Padahal sebenarnya, perceraian tak harus terjadi. Dengan berbagai upaya, mungkin salah satu upaya dari pemerintah adalah dengan meninggikan angka minimum calon pengantin.
Bergeser dari realitas yang miris ini, hidupku juga tersenggol dari hal-hal tersebut. Bukan karena angka perceraiannya, tapi ya namanya soal kehidupan. Pernikahan adalah sebuah topik pembicaraan paling anget untuk orang seusiaku. Waktunya menikah, kata mereka.
Pemerintah sudah memberikan pemberitahuan dengan jelas bahwa minimal usia menikah. Kemudian hal itu juga sudah dilakukan sosialisasi besar-besaran dengan membuat iklan layanan masyarakat untuk menjadi edukasi bersama bahwa memang usia paling ideal menikah adalah dengan kedua angka tersebut. Tapi, sepertinya pemahaman orang-orang di sekitarku–tepatnya tempat aku tinggal–menganggap kata ‘minimal 21 tahun’ diubahnya menjadi ‘maksimal’. Berubah drastis. Perubahan kata itulah yang menjadikan aku, seperti perawan tua bagi mereka.
Padahal sebenarnya, usia di bawah 20 tahun adalah fase sederhana tapi kompleks bagi remaja. Ia baru saja melalui fase memikirkan dirinya sendiri dan jati dirinya, malah harus dihadapkan untuk hidup berdampingan dengan seseorang. Ya, kembali lagi pasti akan ada sangkalan beberapa orang bahwa ‘nggak semua orang kan begitu, bisa aja dia sudah dewasa, dan bla-bla-bla’. Silahkan berkomentar, tapi untukku, aku yang paling tahu usia idealku sendiri.
Usiaku sudah 22 tahun, ini sudah merangkak berubah tahun yang artinya sebentar lagi aku akan berubah menjadi 23 tahun. Dua tahun lebih tua dari kata minimal tersebut. Dan bagi mereka itu sudah menjadi masalah. Cukup bermasalah. Sebenarnya itu menjadi alasan aku malas pulang ke rumah. Pasalnya tak ada yang kubanggakan di tanggal kapan aku menikah, jangankan itu, menggandeng siapa nanti itu masih rahasia ilahi.
Kukira pertanyaan kapan menikah itu hanyalah pertanyaan sederhana. Pertanyaan yang dulu kuanggap dilebih-lebihkan kawula muda kala melakukan pertemuan keluarga. Ternyata, memang menyebalkan. Seakan, menikah adalah sebuah perlombaan yang apabila menang, kamu bakal dapat satu unit rumah. Kalau memang ada, aku akan menikahi siapapun, yang penting dapat rumah.
Tapi guys, menikah bukan soal when i fall in love with him, i wanna marry him. Tidak semudah itu. Meski memang benar, salah satu landasan dalam pernikahan memang saling mencintai. Serta tak sedikit juga yang melakukan perceraian karena salah satu tidak cinta–lagi. Tapi urusan pernikahan tidak semudah itu, tidak seklise itu. Menikah adalah urusan lain dari pada dua manusia yang memadu kasih. Soal pernikahan, lebih rumit dari pada daftar S2!
Aku memang belum pernah menikah, tapi aku tahu resiko yang akan aku dapat dari menikah. Lebih tepatnya, apa yang akan aku terima dan dapatkan nantinya setelah statusku resmi menjadi istri. Aku paham betul makna bibit-bebet-bobot itu perlu. Sudah tidak pandang bagaimana rupawannya, bagaimana ia cintanya. Semua perlu dipertimbangkan termasuk bagaimana nanti aku berkomunikasi sama calon suamiku. Siapa tahu, aku nanti dapat suami orang Korea, apa nggak merepotkan kalau aku nggak bisa bahasa Korea–tapi, kalau aku nggak bisa bagaimana kami bisa mengenal?
Ah, lagi. Pernikahan memang harus dipertimbangkan dengan banyak hal. Bagaimana kalau suatu saat aku tidak bisa memahaminya, atau aku yang syok dengan cara dia bangun tidur, bagaimana kalau dia melakukan hal menyebalkan seperti ditanya mau makan apa dia bingung dan bagaimana kalau aku suka marah-marah kalau dia menaruh handuk sembarangan di kasur. Bukannya aku memikirkan hal-hal buruk, tapi lebih ke apakah aku siap dengan hal seperti itu tanpa merasa emosi.
Pernikahan bekalnya memang tidak hanya cinta dan finansial. Aku bakal berjumpa dengan orang baru yang karakternya bakal diluar dugaan kita. Berbeda dengan orang tua yang sudah mengenalku, seseorang baru ini tugasnya akan lebih kompleks. Ia jadi nahkoda, namun juga sebaya denganku. Keegoisan diri dalam mandiri perlu dikurangi, karena kembali lagi, sebagai perempuan memang harus siap jadi makmum bagi suaminya.
Belum lagi, kalau ternyata suamiku orang yang saklek, akan seperti apa obrolan itu jika ternyata aku juga saklek. Apa nggak berakhir lempar-lemparan kompor tuh? Kan nggak seru kalau barang yang baru dibeli satu bulan lalu hancur karena komunikasinya yang tidak dibangun dengan baik. Karena menikah itu, soal bagaimana kita bisa kongsi dengan baik, bersama seseorang yang baru itu.
Menanggapi hal-hal tersebut, maka banyak orang akan menjawab dengan percaya diri. Itulah fungsinya mengenal, biar kita bisa memilih pasangan. Biar kita bisa menentukan seperti apa pasangan kita. Kalau sikap dia jahat dan patriarki, ya sudah tinggalkan. Jawaban itu memang masuk akal, tapi kembali lagi orang itu berubah. Iya, kalau pas awal kenal manis, gentle dan bisa menjadikan kita terkagum-kagum. Terus ketika sudah menikah sama kita, sikap aslinya keluar. Sikap keras kepalanya dan beberapa hal yang ternyata tidak sevisi sama kita. Apa nggak repot?
Semua itu memang nggak bisa kita pilih orangnya, tapi kita bisa mengurangi kekagetan itu dengan menyiapkan diri. Karena sebenarnya soal mempersiapkan pernikahan, bukan dengan siapa kamu bersanding, tapi bagaimana kamu siap disanding. Perasaan dan sikap orang bisa berubah, karena memang kita nggak boleh percaya 100 persen. Tapi bagaimana respon kamu dan perasaan kamu, kembali lagi menjadi urusan kamu. Berusahalah untuk tetap dewasa dalam menanggapi permasalahan. Jika suatu saat suamimu keras kepala, kamu bisa menjadi air yang menyejukkannya. Kemudian apabila ternyata kamu bimbang dalam menentukan jawaban, suamimu yang realistis itu dapat menjawabnya dengan logis. Dua keseimbangan itu bisa tercipta dari orang yang siap.
Belajar dalam mempersiapkan pernikahan memang perlu dipersiapkan dengan serius. Ia perlu memahami segala lini problema; segi psikologis, segi agama, segi budaya, segi ekonomi, segi manajemen, segi sosial dan segi kesehatan. Sudah seperti dunia pendidikan deh yang memahami ilmu disiplin apapun–tapi memang itu tidak mudah, serius. Perbedaan dari pasanganmu akan menjadi buku baru yang harus siap kamu pelajari. Karena ketika kamu mencoba memahami seseorang, kamu juga akan belajar memahami dirimu sendiri. Persiapkanlah dirimu dalam piknik paling panjang itu, jangan mabuk jangan pula pusing. Jadinya kita nggak enjoy sama perjalanannya.
Menikah itu soal yang bukan sebentar, menikah adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Gimana mau betah ibadah sepanjang hidup kalau kamu ibadah wajib aja suka buru-buru dan suka menyepelekannya. Persiapkan itu dengan maksimal, paling tidak jangan sampai merugikan siapapun–termasuk kepercayaan yang sudah kamu bangun bersama nahkodamu itu.
Kepada siapapun orang terdekatku, yang meminta aku ingin menikah cepat, terima kasih. Aku tahu niat kalian baik ingin aku merasakan kebahagiaan sebagai seorang istri. Tapi ini bukan soal bersenang-senang saja, ada perjalanannya yang hanya aku dan suamiku yang menjalaninya. Semua itu perlu persiapan, dan sekiranya aku meminta kalian untuk membantu itu. Kemudian soal waktunya, akan ada masanya ketika Tuhan sudah bersedia menyerahkan kepercayaan itu padaku. Doakan saja yang terbaik.

