Eksistensi wisata religi makam Sunan Muria sepertinya sudah tak perlu dijelaskan lagi. Setiap hari ada saja peziarah yang datang mengunjunginya, dari yang dekat seperti saya, atau yang rombongan dengan bus pariwisata. Biasanya mereka adalah rombongan peziarah dari luar kota. Dari yang fasih bahasa Jawa, yang ngapak, dan yang bule pun pernah mampir di makam yang perlu tenaga ke sana.
Tapi sepertinya, bagi yang belum tahu bisa saya jelaskan lebih banyak soal Wisata Religi Makam Sunan Muria dan hal-hal indah yang tersembunyi di dalamnya.
Lokasi makam Sunan Muria
Sunan Muria bernama asli Raden Umar Said, dan beliau dimakamkan di Gunung Muria. Sunan Muria juga menjadi salah satu dari kesembilan Walisongo yang menyebarkan Agama Islam di Pulau Jawa.
Dari beberapa makam para sunan, yang paling saya sukai adalah Makam Sunan Muria, sebab lokasinya berada di Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Kalau ke sini, bakal disuguhkan pemandangan luar biasa Kudus dari mata Gunung Muria. Belum lagi kalau malam, berasa melihat taburan bintang tapi di bawah.
Saya kerap datang ke sana, nggak sering-sering juga, mentok hanya 3-4 kali selama setahun. Meski saya berdomisili di Kudus, jaraknya cukup jauh dari pusat kota, membikin saya tidak bisa mengunjungi terus-menerus. Belum lagi untuk naik ke atas, iya ke makamnya.
Akses menuju makam Sunan Muria
Kalau mau ke sana, paling tidak sudah harus siap duit 40 ribu untuk berangkat-pulang naik ojek menuju ke makamnya. Kenapa?
Akses kendaraan beroda empat hanya bisa sampai parkiran. Sebenarnya bisa naik motor sendiri ke atas, tapi saya sarankan jangan gegabah. Jalannya sempit dan berliku-liku, belum lagi bersimpangan dengan para ojek yang seperti peraga tong setan. Mending, saya lebih sayang nyawa saja. Duit 40 ribu bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa ditukar tambah.
Sebenarnya ada jalur untuk pejalan kaki, ribuan tangga yang diapit pasar. Tapi memang, anda harus siap banyak tenaga. Karena untuk sampai ke makam, harus nanjak lagi dan itu bikin napas ngos-ngosan dan dengkul linu. Pokoknya, yang tenaganya tidak fit, jangan coba-coba sebelum anda merasakan simulasi sakaratul maut.
Perjumpaan dengan bakul kopi
Berawal dari kebodohan saya Agustus lalu, yang coba-coba jalan kaki menuju makam Sunan Muria. Biasanya saya ngojek, tapi saat itu pengin merasakan sensasi jalan kaki. Padahal lupa jati diri bahwa saya remaja jompo yang asing berutinitas olahraga.
Baru setengah jalan, napas saya sudah seperti kambing disembelih. Muka merah dan badan gemetar. Situasi ini membikin saya pengin muntah. Sebab, dalam badan saya panas, dan tubuh saya diguyur banjir keringat. Minum air putih tidak mempan, yang ada saya menangis karena menyesali memilih jalan kaki.
Lalu saya memutuskan untuk berhenti, mampir di salah satu warung sederhana di tengah-tengah Pasar Makam Muria yang sedikit lengang, maklum hari Selasa. Saya memesan Lee Minerale dingin untuk menetralkan tubuh dan Pop Mie untuk mengusir gemetar. Situasi pasar sepi, jadi saya bisa leluasa menikmati pesanan dengan ngobrol bersama Mbah Yatmi, pemilik warung tanpa nama ini.
Lokasinya berada di tengah jalur Pasar dan dekat dengan pemberhentian ojek. Model warungnya seperti warteg yang menyajikan gorengan dan makanan berat. Dekat dengan tikungan yang langsung menghadapkan dengan pemandangan gunung Muria.
Di antara obrolan kami, yang menarik adalah soal kopi Muria. Kopi hasil tanah Muria yang sebenarnya belum pernah saya coba. Sepertinya enak, itu yang saya baca dari banyaknya bapak-bapak ojek yang memesan kopinya.
Nikmatnya kopi muria bikinan sendiri
Segelas kopi tiba di depan muka saya. Asapnya mengepul, menghangatkan wajah saya yang mendingin karena keringat. Aromanya harum, bikin saya ingin langsung menyeruputnya segera. Itu adalah perasaan yang saya rasakan ketika kopi itu disuguhkan oleh Mbah Yatmi kepada saya.
Katanya, “Dicoba dulu Mbak, dijamin nggak bikin kembung.” Saya sedikit yakin, sebab Mbah Yatmi bercerita biasa mengonsumsinya sehari 1-2 gelas. Tapi, saya kan, bukan pecinta kopi banget. Bahkan, sehari sebelumnya badan saya gemetar menjajal kopi susu di kafe.
Tapi setelah saya sesap, rasanya jiwa saya langsung dibawa naik di atas gunung Muria, ketemu burung-burung dan angin sore. Enak pol. Rasanya pas, manis dan tidak pekat untuk saya yang tidak kuat pahit. Tapi juga tidak terlalu legi untuk yang suka kopi. Yang bikin saya langsung jatuh cinta pun, karena tidak bikin kembung. Badan saya menghangat dan perasaan saya juga ikutan. Seperti ada resep rahasia yang ditabur dalam pembuatannya.
“Hanya disangrai dengan jagung, Mbak.” Papar Mbah Yatmi yang mudah saja menjelaskan resepnya.
Benar. Resep rahasianya adalah jagung dan cinta. Mbah Yatmi yang penuh asih ini telah menyajikan kopi nikmat. Dan yang bikin saya jatuh cinta lagi dan lagi yakni Mbah Yatmi memberikan kopi ini gratis, bayarannya adalah mengobrol banyak hal di sana.
Meski dikasih gratis, saya membayar lagi untuk datang ke sana kembali dan membeli kopi itu lagi, tapi kali ini, bonusnya saya diajak makan bareng keluarganya. Sungguh, nikmat yang perlu saya syukuri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar