"Kita memiliki hak penuh dalam kendali perasaan kita, maka kendalikan semuanya dengan baik."
–
Kata orang sombong dan bangga itu beda tipis, sama-sama pamer keunggulan diri. Tapi, ia bisa terlihat berbeda dari bagaimana orang memandangnya. Ya, bagi orang yang iri atau nggak suka, kebanggaan adalah suatu hal yang bersifat pamer, dan ingin mendapatkan pembuktian serta pengakuan. Beda lagi dengan orang yang memang dari sananya sudah ber-positif thinking, mau sepamer apapun orang, baginya itu hanyalah suatu penghargaan diri dari upaya-upaya yang dilakukan–entah upaya sederhana atau upaya yang luar biasa. Kalau kata gaul sekarang, namanya struggle.
Sebenarnya dari dua kata tersebut memiliki perbedaan yang cukup kok, coba deh cek ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata bangga dan sombong itu jelas beda. Bangga di sini memiliki arti berbesar hati atau merasa gagah karena mempunyai keunggulan. Sedangkan sombong artinya menghargai diri secara berlebihan, meninggikan diri, congkak, dan pongah. Sudah paham bedanya kan? Singkatnya kedua hal tersebut membahas tentang merasa percaya diri terhadap keunggulan. Bedanya di sini, sombong tuh lebih boros dalam perlakuannya. Padahal jelas ya di dalam Alquran tuh kalau kita nggak boleh berlebihan dalam hal apapun, termasuk bangga.
Berkaitan dengan hal tersebut, sebenarnya aku juga hampir berada di fase sombong. Bukannya mau berbangga diri nih dengan sikap jelek tersebut, tapi memang dasarnya manusia tuh paling doyan bener digoda sama setan. Kalau setan jadi manusia, sudah saya laporkan tuh ke kantor polisi atau nggak dinas perlindungan anak dan perempuan. Soalnya, tindakan godaannya tuh udah melebihi taraf catcalling.
But, balik lagi. Sebagai orang yang disekolahkan keluarga tinggi-tinggi, nggak bolehlah saya berperilaku bodoh dengan menolak keadilan bahwa tugas setan memang menggoda aku dan kalian-kalian semua. Jadi, soal sikap sombong ini hampir saja bertamu di hati saya.
Bulan Januari tahun ini, awal tahun yang sudah mendapatkan perhatian luar biasa. Bagaimana tidak, aku dinyatakan sebagai mahasiswa dengan lulusan tercepat tahun ini. Sebenarnya, teman-temanku banyak tapi yang menjadikan eksposure lebih banyak ke arahku adalah bagaimana kondisiku. Menjadi ketua organisasi di sebuah kampus memang hal yang sederhana dan remeh. Tapi menjadi ketua organisasi dan bisa survive dengan perkuliahan dan lulus cepat adalah melawan takdir. Yas, aku melawan stereotip sebagai aktivis yang digadang-gadang akan selalu betah menjadi manusia hingga lulus dengan semester dua digit.
Rasanya gimana? Menyenangkan. Tapi berat nggak? Guys, apa sih yang nggak dilakukan dengan perjuangan, nggak ada. Bahkan dalam hal tidur pun, akan selalu ada usaha untuk bisa ngantuk dan mendapatkan ketenangan sebelum terlelap. Tapi di sini beda ya. Berat yang kumaksud memang dengan menjadi ketua bukan berarti aku dapat korting bab skripsi. No, aku tetap mengerjakan dari pengajuan judul sampai acc skripsi, lima bab! Nggak kurang nggak lebih.
Tapi aku bangga nggak sih? Jelas lah. Rasa bangga itu timbul dari susah payahnya aku menjaga waktu, menjaga diri dan menjaga mood. Dulu kala mengerjakan skripsi, aku harus membagi waktu antara jadi pembantu kampus dan organisasi, malamnya aku fokus dengan diriku sendiri. Tak kubiarkan aku membuka aplikasi pemuas rasa malas seperti TikTok, Instagram bahkan story whatsapp. Bagiku, menyicil lebih baik dari pada harus mengejar target. Menjadi ketua memang melatihku untuk bisa memanajemen itu dengan baik. Aku bisa lho, senyum di hadapan orang yang nggak aku sukai. Aku juga bisa, datang ke lima acara dalam satu hari–asal dia tidak dilaksanakan di satu waktu, aku juga bisa menghandle kegiatan dan merasa bisa, meski aku juga kadang nangis, its okey kataku.
Awalnya aku merasa bahwa upayaku memang perlu diapresiasi, bahkan bagiku sendiri. Tapi, apresiasi dari orang-oranglah yang menjadikan aku sedikit limbung. Katanya, tak ada yang benar-benar bisa melakukan hal sehebat aku, tak ada yang bisa mengalahkan aku. Tak sedikit juga mengatakan diriku bukan manusia, bahkan sampai dielu-elu dewa. Edan. Kembali lagi, panggungku memang belum diganti dan aku menoreh prestasi.
Aku digadang-gadang orang produktif, katanya apa sih yang nggak aku bisa. Ada! Aku punya sesuatu yang tidak bisa aku jaga, yaitu perasaanku. Perasaan yang masih suka seperti anak kecil, suka sekali terombang-ambing dengan iming-iming rasa nyaman, perasaan yang masih suka sekali berkongsi dengan setan. Padahal tadi di awal kan sudah jelas aku katakan, setan itu nakal. Aku dibuat sombong dengan itu.
Star syndrome menggerayangi seluruh pori-pori tubuhku, masuk ke bagian paling inti dan penting–hatiku. Perasaan terekspos yang bahkan seluruh dosen di fakultas itu seperti kagum dengan perjuangan yang aku lakukan–revisi, nggak seluruhnya, tapi mayoritas. Aku seakan punya masa depan yang bertajuk gemilang. Diterima kerja di manapun, atau bolehlah kalau aku ingin, aku bisa mendaftar di pascasarjana kampus manapun. Meski sebenarnya aku tidak tahu semampu apa aku menghadapinya nanti. Tapi diadem-ademkan seperti itu perasaannya, menjadikan aku tak waspada.
Perjalanan memang berat, tapi rasa bangga berlebihan itu menjadikan aku lupa akan adaptasi. Dunia nggak muter ke kamu aja bro, kataku sekarang pada aku kemarin. Tapi kala kemudian, saat aku sudah menyadari ini berlebihan. Aku tak boleh tenang diri. Aku tidak boleh untuk tetap merasa semua mata akan mengarah kepadaku. Ketidakberesan ini tidak boleh diberi makan terus. Sampai kemudian aku pulang ke rumah.
Masku, orang paling jahil itu menanyakanku. “habis kuliah mau kemana? kerja di sini saja.”
Aku langsung menyahut, “kalau S2 gimana?”
Responnya masam,tak setuju adiknya melangkah lebih tinggi. Bukan karena ia tersaingi, ia memang tidak kuliah tapi baginya sekarang mencari uang adalah hal yang perlu dipikirkan dan diprioritaskan. Pemikirannya itulah yang perlu dibenamkan juga di kepalaku. Apalah makna belajar, baginya sarjana sudah cukup membanggakan, tak perlu mencari tambahan gelar lagi. Bukankah namaku sudah cukup panjang dengan gelar S.Sos di belakangnya?
“Kapan kamu membalas hutang Ibu.” ucapnya dengan halus, selembut mungkin agar ibu yang tidur di ruang tengah tak mendengarnya. Pukul tujuh kala itu, tapi adzan isya’ belum terdengar di pengeras suara masjid depan.
Aku kini yang berwajah masam, tak sukalah aku diungkit-ungkit soal penghabis keuangan keluarga. Tapi kenyataannya memang begitu. Aku yang satu-satunya kuliah di sini–tapi memang aku juga bekerja kok, tapi ya gitu penghasilanku tidak lebih banyak dari pada lainnya. Aku masam karena memang kenyataan itu jahat.
Kebanggaan berlebihanku selalu ditampar keluargaku, aku memang membanggakan. Dapat kuliah dengan baik, namun mereka tidak pernah memahami soal jumlah waktu yang kukerahkan. Mereka tidak paham makna tiga setengah tahun, yang mereka tahu. Aku jarang pulang.
Nama yang sudah tinggi dan aku banggai itu, tak pernah selalu sama digotong dimanapun. Sekali lagi, aku sadar sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Aku memang membanggakan, mendapatkan banyak hal yang belum bisa orang lain dapatkan. Namun, untuk tetap membanggakan itu di depan orang yang tidak mengerti hanya menjadi sebuah hal yang bertajuk ‘sombong’.
Setelah percakapan itu, kepercayaan diriku terhadap S2 mulai mereda. Bukan karena orang tua, tapi karena diriku sendiri. Sebenarnya apa yang kukejar? Apa yang ingin aku dapatkan dari pendidikan tingkat lanjut itu? Apa aku memang senang belajar, atau aku yang memberi makan saran-saran orang? Niatnya apa?
Kemudian, ketika aku mendapatkan S2, apa yang terjadi dengan keluargaku?
Aku, akan lebih baik lagi. Aku akan bisa menjaga perasaanku dengan baik. Ya, memang hidup seperti ini. Tak ada yang namanya pusat, bahkan di dunia ini ada dua kutub, ada banyak sekali galaksi di angkasa ini dan tak selamanya kamu yang bersinar.
Perspektif soal bangga, memang akan berubah menjadi sombong di mataku, kala aku terkecoh dengan keberhargaan diriku yang berlebihan. Padahal kembali lagi? Sebenarnya aku kemarin bisa karena diriku sendiri atau karena beruntung? Atau yang paling mengetirkan adalah, apakah aku bisa karena memang itu privillage dari ketua organisasi?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar